PERCAYA ATAU TIDAKPUN RAMALAN SABDA PALON SUDAH BERJALAN DAN TERBUKTI

Mungkin Tulisan ini sudah terlambat, tulisan ini terlalu sinis tapi mudah-mudahan bisa memberi pengertian dan kesadaran untuk lebih mencintai Tanah Air, Bangsa dan Nusantara. Mencintai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa, budaya serta peninggalan-peninggalan leluhur seperti Candi-candi, Pura, Puri, Purana ataupun yang lainnya. Memahami bahwa Majapahit masih ada sampai sekarang salah satu contohnya Bali yang sudah di Hindukan karena tidak bisa di Islamkan atau diarabisasi tapi lambat laun akan menjadi Arab kalau tidak disadari. Majapahit adalah bukan kerajaan Hindu tapi penyatuan Siwa Buda. Pada tahun 1961 Hindu di sahkan oleh Pemerintah sedangkan praktek-praktek di Bali sudah ada Ratusan tahun. Hindu identik dengan India Tapi Majapahit Bali tidak identik dengan India. Majapahit Bali semua menghormati leluhur (Silahkan tanya orang Bali yang mengerti sejarah,” Siapa yang di Bali yang tidak punya Kawitan dan menjang Sluwang Majapahit atau Siapa yang tidak melaksanakan odalan dan mecaru serta Upacara Ngenteg linggih yang menghormati leluhurnya biarpun akhirnya ke Tuhan). Pure boleh dikatakan tempat ibadah Hindu Tapi Pura/Puro adalah Keraton Stana daripada leluhur. Silahkan dicek kebenarannya bukan minta yang paling benar ataupun kalau bertanya cari orang yang benar-benar.

(Semua orang tahu akan Ramalan ini, tapi bagi yang tidak tahu silahkan baca terjemahannya dan akan mendapatkan kasunyatan, Majapahit tidak perlu pengakuan tapi Dunia mengakui Majapahit sejarah dan budayanya hanya bangsa sendiri saja yang belum membanggakannya, contoh Candi Borobudur diakui Dunia tapi karena bangsa ini tidak bangga akhirnya ya..menjadi hilang jati dirinya, malah membanggakan Candi kotak di padang pasir. Lihatlah bagaimana setiap orang di negara lain membanggakan peninggalan leluhurnya yang terawat. Disni ada yang berjuang, yang memang kewajiban BELIAU untuk berjuang malah ditutup dan di sunat “seperti adat Arab” tidak boleh memberikan kasunyatan padahal Dunia mengakuinya)

TERJEMAHAN BEBAS RAMALAN SABDA PALON NAYA GENGGONG YANG DULU DILARANG TANPA ALASAN YANG JELAS, PARADAJJAL ARAB KETAKUTAN DAN HABIS KONTRAKANNYA YANG MEMAKSA DIBUMI NUSANTARA TERCINTA


  1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis didalam buku babad tentang Negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Orang yang bergelar Sunan Kalijaga didampingi oleh punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong. > (Cuplikan Serat Babad Majapahit, Darmagandul yang sempat dilarang zaman ORBA ketakutan dan pendiskriminasian etnis yang tidak boleh mempelajari Budaya Cina oleh Penjajah Dajjal yang ingin terus bercokol di negeri ini).
  2. Prabu Brawijaya berkata lemah-lembut kepada punakawannya,”Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu lebih baik ikut Islam sekali, sebuah Agama suci dan baik”. > (Pada bait ini sebuah fakta kebohongan terjadi sejak 500 tahun yang lalu, Islam ajarannya baik tapi oknumnya memanfaatkan untuk menggempur yang lainnya dengan cara mudah sekali mengadu domba sesama, menyesatkan yang lain dan merasa paling benar dimuka bumi sampai detik ini. Tapi bagi yang tidak melakukan pemaksaan dan kekerasan serta pengrusakan apapun alasannya ya….jangan sewot atau mencak-mencak kebakaran jenggot).
  3. Sabda Palon berkata kasar, ”Hamba tidak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang setanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para Raja di tanah Jawa. Sudah digaris kita harus berpisah”. > (Ini kekukuhan orang Jawa yang masih mempertahankan adat dan budayanya, jaman sekarang mengucapkan hal seperti ini seperti “tidak mau masuk Islam” pasti akan disingkirkan, disesatkan dan dieliminasi, sayang seribu sayang Nusantara yang begitu beragam baik adat, budaya serta keyakinan akan dijadikan satu yakni budaya Arab disetir Dajjal. Lihat berita Nusantara TV, Koran dan lain-lain.)
  4. Berpisah dengan sang Prabu kembali keasal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah lima ratus tahun saya akan menganti Agama Buda lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa. > (Ajaran Buda maksudnya ajaran Budi pekerti, tapi tidak ada salahnya memahami ajaran Siwa Buda atau istilahnya kejawen, apapun menurut orang yang tidak senang/aneh yang sampai detik ini banyak diterapkan termasuk di Bali karena Bali adalah Majapahit yang dikenal daripada Indonesia oleh dunia yakni percaya adanya leluhur, kita ada dengan perantara leluhur, sebelum semua menghadap kepada Tuhan YME/Alloh SWT melalui Muhammad SAW/Allah melalui Yesusnya/Ida Hyang Widi Wasa/ Thian atau apapun sebutannya. Kita mengenal Agama yang dibawa oleh penjajah karena Orang tua kita, ingat !!. Jadi tidak ada salahnya kita mengenal leluhur dulu, Nama Tuhan terlalu suci untuk kita sebut dengan mulut yang banyak busuknya ini, sedikit-sedikit membawa nama Tuhan seakan-akan Tuhan yang menyuruh, renungkan!!)
  5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan Jin, Setan Brakasaan dan lain-lainya. Belum legalah hati bila belum Saya hancur-leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata Saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya. > (Banyak orang jadi tumbal sia-sia, kecelakan dimana-mana dengan mengenaskan, saling bantai sesama saudara dengan pikiran emosi dan baru-baru ini Gunung Merapi bereaksi. Pintu langit dibuka dan pintu bumi dibiarkan terbuka untuk para roh-roh yang dianggap gentayangan, roh-roh yang dibantai dilepas untuk membalas, terbukti hampir setiap hari terjadi kebakaran hingga ada yang dipanggang hidup-hidup baik didarat, laut dan udara. Diaben yang lebih mengenaskan. Di Bali Upacara Ngaben masih ada upacaranya. Lha…ini langsung hidup-hidup. Pertanyaannya,”Mengapa terjadi setelah terhitung 500 tahun sejak Hyang Sabda Palon bersabda”).
  6. Lahar tersebut mengalir kebarat daya, baunya tidak sedap. Itulah “Pratanda “ kalau saya akan datang. Sudah menyebarkan Agama Buda (Budi Pekerti yang luhur). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat dirubah lagi.
  7. Kelak waktunya paling sengsara di Tanah Jawa ini pada tahun, Lawon Sapta Ngesti Aji (ada yang mengatakan 1878 atau 1877 tapi kejadiannya kenapa empat sampai lima tahun yang lalu itulah tidak ada yang tahu tetapi Majapahit di hancurkan habis oleh Demak Islam sekitar tahun 1503, tetapi keturunannya tidak habis sama sekalikan?. Bahkan yang menyerang juga sama-sama keturunan masa Majapahit hanya di provokasi oleh sunan (dulu, cuplikan Babad Kadiri) dan juga masih terjadi provokasi untuk menghabisi sesamanya (sekarang). “Cuma bilang sesat” habislah mereka digebukin sama massa yang memang dibodohi dulu. 500 tahun kemudian pada tahun 2003 mulailah ada “goro-goro”, 2004 Serambinya Mekkah dihancurkan dulu dengan alam, sampai sekarang bisa dilihat sekeliling dan Koran serta TV. Itulah sejarah, semua berhak punya analisa karena dulu orang Jawa tidak boleh belajar sejarah biar bodoh dan goblok dan bisa terus dijajah, semua tulisan jawa dan cina berganti dengan tulisan arab, Tulisan Jawa dan Cina dianggap asing padahal Muhammad sendiri bersabda “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”, makanya orang-orang Cina dilarang sekolah dan tulisan Cina dilarang fakta jangan ingkar. Uang kepeng/gobog banyak ditemukan berhuruf Cina. Silahkan datang ke Trowulan dan tanya pada orang yang membuat Batu bata merah ?. Adakah mereka menemukan uang gobog selain berhuruf Cina dan Jawa?. , Bali ornamen Bangunannya sama dengan Klenteng/tempat leluhur atau rumah Cina pada umumnya, orang pribumi dianggap asing, tulisan Cina dianggap asing, diskriminasi kepada bangsa leluhur Cina yang peninggalannya sebelum Gujarat masuk, padahal orang Arab disini itu yang lebih asing, “Apakah mereka asli, sejarah mengatakan kita adalah bangsa Indo-Cina” HADIST Nabi Muhammad pun yang diatas dimentahkan dengan sok berkuasa di negeri Nusantara yang beragam budaya, adat istiadatnya hingga berdasarkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa malah mau diarabisasi piye to mas…masss . Ada ada apa sebenarnya dulu, kenapa sejarah yang sebenarnya dipasung lihat pada masa ORBA apalagi sejarah 500 tahun yang lalu. Kalau memang mau berfikir kawula Majapahit jangan mau jadi pelanduk dan mati ditengah-tengah. Jangan goblok lagi dimanfaatkan untuk menggebuk sesama dan untuk komandannya jangan korbankan saudara kami mereka memang bodoh dan goblok karena terlalu banyak dijajah tapi salut kawula Majapahit masih tegar melaksanakan Adat istiadat, Budaya serta unggah-ungguhnya. Untuk orang Cina yang sudah turun temurun lahir di Nusantara kalian bukanlah warga keturunan yang baru datang, (asing) tapi kaum yang membawa peradaban yang modren dan bagus dari abad pertama sejarah bangsa ini. Makanya tulisan Cina dilarang supaya tidak tahu lagi sejarahnya berganti dengan sejarah Arab. Untuk yang Arab lahir disini banggalah punya Nusantara. menghirup udara Nusantara, kawin disini patutlah menghargai peninggalan leluhur kami, bangga dengan Nusantara yang beragam, jangan kalian rusak. Ramalan ini dulu sudah beredar tapi dianggap lelucon/tahayul hingga Hyang Sabda Palon menumpas melalui alam, believe or not). Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang ditengah-tengah, tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia. > (Terbukti tiba-tiba banjir bandang, hujan sedikit longsor, rob dan lain sebagainya yang menurut pakar salah prediksi, mari direnungkan !!).
  8. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa (Nusantara). Itu sudah kehendak Tuhan tidak bisa dipungkiri dan disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada di tangan-Nya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya. < (Percaya leluhur bukan berarti tidak percaya Tuhan yang menciptakan Alam dan isinya, hanya melalui perantara leluhurlah kita semua bisa sampai ke Tuhan).
  9. Bermacam-macam bahaya yang membuat Tanah Jawa rusak. Orang-orang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para Priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang dihutan. > (Berita Tv, Koran terjadi krisis Global, banyak pengusaha bangkrut, disebabkan yang merusak Nusantara dengan membawa misi Agama import adalah Saudagar-saudagar makanya para saudagar dikutuk “Saudagar Tuna Sadarum”. Memperjual-belikan seenaknya. Orang yang bertitel baik sarjana maupun ningrat banyak yang susah bahkan mempermalukan dirinya sendiri dengan, korupsi, membunuh ataupun bunuh diri, orang dulu bangga waktu membantai sesamanya sekarang dibantai oleh Alam, kecelakaan dengan kepala pecah di gorok dan lain sebagainya. Impas !!).
  10. Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan heblat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tetapi siang hari banyak begal. > (Penjelasan ini bisa dilihat di sekeliling kita dan di media cetak maupun elektronik, KASUNYATAN).
  11. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan Negara (Tapi sekarang Negara diatur Dajjal yang membawa kerusakan dengan menerapkan aturan yang menguntungkan kelompoknya atau pribadinya dan mengkebiri yang lainnya), sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut masih berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata ditanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia alias tewas. > (Flu burung, flu Babi cikungunya nanti menuysul apalagi penulis tidak tahu…..!!!).
  12. Bahaya penyakit luar biasa. Disana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang > (lihat berita TV, Koran).
  13. Seperti lautan meluap airnya naik kedaratan (Banjir Rob). Merusakkan kanan-kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup dipinggir sungai banyak yang hanyut terbawa sampai ketengah laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan bergemuruh suaranya.
  14. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap kekanan serta kekiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali (lihat saja). Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun > ( sudah terbukti di Aceh yang menamakan serambi Mekkah di hancurkan dulu oleh alam, tanpa tersisa mengapa ??. tanyakan pada diri anda sendiri dan masih banyak kejadian diluar dugaan manusia).
  15. Gempa bumi 7 kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah “BREKASAKAN” yang menyeret manusia masuk kedalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh Kebanyakan mereka meninggal dunia. < (banyak yang Bunuh Diri, tertimpa bangunan dan banyak lagi peristiwa tragis tapi miris)
  16. Demikianlah kata-kata Sabda palon yang segera menghilang sebentar, tidak tampak lagi dirinya. Kembali ke alam-Nya dengan Mokswa. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun Bagaimana lagi segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin dirobah lagi. > (Kata-kata terakhir daripada Prabu Brawijaya banyak diucapkan oleh orang sekarang, apabila terjadi musibah dalam hati menjawab ya…itu sudah takdir, kodrat mahluk hidup, tanpa memikirkan dengan otak yang Gratis ini yang diberikan Tuhan dibantu kasih sayang kedua Orang Tua. Hukum sebab-akibat tidak pernah diterapkan, karena sudah kita di bodohkan dengan Dajjal Arab. Bagi yang berharta, musibah ini ini tidak ada artinya tapi bagi orang miskin, kere, semua ini ada artinya, karena mereka memang memandang segala sesuatu dengan Uang, harta yang utama bukan Budi pekerti, budaya yang sudah diterapkan turun temurun sejak jaman Majapahit yang terbukti bisa menyatukan Nusantara dengan Rakyatnya adil makmur Gemah Ripah Loh Jinawi. Sekarang semua ramalan berjalan percaya ataupun tidak kenapa ??. Karena memang sudah ada yang diemong lagi oleh Hyang Sabda Palon. Yakni Raja Majapahit Masa kini yang mempertahankan Adat Budaya Nusantara tanpa mau tunduk oleh Dajjal Arab. Banyak yang mengaku keturunan Majapahit bahkan mengaku Raja Majapahit, tapi kehidupannya tidak identik sama sekali dengan sejarah Majapahit sebelum Islam (Abad 15 Islam Demak menghancurkan jaman Majapahit diseponsori Dajjal bermata satu merasa benar dan paling benar). Kalau dulu Jawa, Nusantara di Islamkan, di Kristenkan, Di Hindukan sekarang Islam, Kristen, Hindu di Jawakan artinya Jawa itu Ngerti, Contoh ada pengungkapan Oalah Cino iku kog Jowo tenan yo..yo ?. Itulah fakta yang akan merubah Nusantara andaikan semua orang mengerti dengan Sejarah dan Budayanya. Terkadang orang hafal sejarah dan budaya dari bangsa lain. Tapi Sejarah dan Budaya bangsa sendiri tidak mau. Adat-adat Nusantara di cap sesat, lontar-lontar atau Kitab-kitab majapahit kuno ajaran leluhur dianggap ajaran setan, leluhur dianggap setan, hantu. Padahal Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa serta semboyan untuk para prajurit di ambil dari kitab-kitab Majapahit inipun nantinya akan diganti dengan tulisan arab, Ironis !!. Sukses bangsa Arab menjajah negeri ini dan kami….(kalian) ketakutan kalau Bangsa Arab memutus hubungan kemana lagi berhaji itulah salah satu kemenangan mereka. Banyak orang Jawa memakai nama Arab biar mudah dihormati. Tidak peduli apa yang terjadi sesama bangsa sendiri saling membantai (lihat saudaranya digebukin gara-gara tidak sepaham dengan mereka), orang jawa yang sok kearab-araban lebih Arab daripada Bangsa Arab sendiri. Bangsa Arab masih punya hati Nurani menjalankan kehidupannya biarpun masih ada TKW kita yang dianggap Budak, toh memang sejarahnya begitu (Jahilliyah makanya sampai diutus Nabi untuk membetulkan tabiat mereka). Orang jawa yang kearab-araban lebih biadab dari pada orang arab sendiri, menggebuk yang lemah, membantai yang tidak tahu sekedar unjuk kekuatan. Sifat Dajjal memang seperti itu. lihat berita TV, KORAN (yang tidak merasa ya…jangan sewot) . Bangsa ini sudah punya Budaya sebelum Gujarat masuk membawa misi Agama, sudah punya Budaya. Ajining Bongso soko Budoyo !. Jangan terulang kembali peristiwa PKI yang langsung dibantai semua ataupun dicap untuk dimusnakan saudara kita, peristiwa 14-15 Mei 1998, Penggebukan aliran kepercayaan, dan Jangan mudah menamakan sesat bagi yang lainnya, hingga untuk memancing massa yang bodoh memang dibodohkan mudah menhancurkan sesamanya. Tidak semua massa tahu pokok pemasalahnya, mereka bodoh hingga dimanfaatkan oleh orang yang punya kepentingan dengan kepintarannya (pinter keblinger). Wahai kawula Majapahit jangan mau diadu domba lagi termasuk oleh bangsa sendiri, sadarlah !!. Dan pahamilah Sabda dari Hyang Sabda palon untuk mencintai Nusantara dan sadar akan terjadi dan sudah terjadi. Majapahit hancur oleh bangsa lain pasti maklum, tetapi Majapahit hancur oleh bangsa sendiri, wajahnya sama, bahasa sama dan satu Nusa satu Bangsa, Ironis !!. Penulis waktu mengungkapan hal ini sedikit bergetar dan ada sesuatu yang aneh tapi siap mempertanggung-jawabkan apa yang sudah di bagi melalui media ini). RAMALAN SUDAH BERJALAN MAU ATAU TIDAK MAU YANG DULU DILARANG BEREDAR, MENGAPA ?…… KETAKUTAN DAJJAL PULANG KEARAB. KARENA NUSANTARA SANGAT TERLALU KAYA RAYA BAGAIKAN SORGA TERMASUK ORANGNYA GANTENG DAN CANTIK. SEHINGGA MENJADI REBUTAN BANGSA LAIN. TAPI KARENA TIDAK BANGGA AKHIRNYA DIHANCURKAN OLEH DANYANG TANAH JAWA. NENEK MOYANG BANGSA KITA SUDAH SEJAHTERA MULAI ABAD PERTAMA, DIARAB MASIH PERANG SAUDARA DAN MASIH JAHILLIYAH. PATUT BANGGA, DIJAJAH SEKIAN LAMANYA BERARTI NUSANTARA MEMANG KAYA RAYA, KALAU TANDUS SIAPA YANG MAU MENJAJAH ?. (rahajeng dan rahayu untuk anda semua)

PURA, PURI DAN PURANA MAJAPAHIT PUSAT DIBELENGGU (PANCASILA CUMA PAJANGAN)

Pura Majapahit Trowulan Disegel, Parisada Diam Saja dan tak bisa berkata alias mbisu dan micek… karena takut dibubarkan oleh Dajjal tapi maklum memang bukan bagiannya.
Satu-satunya pura yang merupakan tonggak sejarah perkembangan Zaman Majapahit ada di Desa Segaran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Pura ini masih eksis dan mendapat perhatian dari keturunannya apapun agamanya sekarang ini. Sehingga sehari-harinya nyaris ramai dikunjungi umat untuk melakukan sembahyang guna memohon keselamatan. Perlu diketahui Pura itu KERATON tempat Stana Raja, kalau tempat ibadah Hindu namanya Pure. Jangan samakan antara Pura dan Pure. Mata dengan mati serta mate.
Sayangnya, walau era reformasi sedang bergelayut, tak semua orang mau menerima keberadaan pura ini (bukan masalah tidak mau, tapi para Dajjal tidak menginginkan orang sadar akan leluhurnya, berbakti dengan leluhurnya dan sejarahnya, bangga punya tanah air gemah ripah loh jinawi, dan mereka para Dajjal tidak menginginkan Majapahit kembali sesuai dengan Ramalan dan mereka tahu akan ramalan ini, jelas ketakutan seperti pepatah Panas setahun disiram hujan sehari, mereka juga seakan mengiginkan kawula Majapahit tetap bodoh tidak tahu sejarah dan leluhurnya hingga mudah dibujuk rayu untuk ditipu untuk setor kepada negeri Arab yang memang tandus dan jahilliyah sebagai budak, di arab meskipun punya candi satu bisa membikin makmur negerinya itulah hebatnya Nabi Muhammad anak bangsa Arab dari kaun Quraish yang cinta tanah airnya, tapi sekarang yang sok adalah sebangsa dan setanah air untuk tidak membanggakan sejarah dan peninggalan Leluhur sendiri, contoh Candi itu berada dalam Pura atau keraton, leluhur dipandang oleh mereka sebagai hantu, keturunan yang masih hidup dipaksa masuk mengikuti mereka kalau tidak mau disesatkan cuplikan Darmagandul yang dilarang alasannya bertentangan dengan bahasa Arab hingga aksara jawa dianggap aksara setan, kidung jawa, orang Jawa dianggap sesat, tapi bagi Anda yang tidak melakukan pemaksaan yaaa..jangan sewot fakta mengatakan syarat rukun Islam itu ada lima jikalau salah satu syarat tidak dilaksanakan,” Apakah itu layak disebut pemeluk Islam ?”.). Justru orang-orang yang menyerbu Pura mengaku muslim tapi tidak mengerti dengan ajaran Islam jadi jangan kalian mengaku tapi kalau diaku bolehlah tapi jangan sewenang-wenang. Ujung-ujungnya pura yang kini merupakan basis untuk bangsa sendiri kunjungan umat yang mengaku keturunan Majapahit, disegel begitu saja tanpa alasan yang jelas. Dengan disegelnya Pura Majapahit, membuat berang Pinandita Pura, yaitu Hyang Suryo Wilotikta.
Lebih berang lagi, sampai rumahnya dipasangi sebuah pengumuman yang pada intinya melarang segala kegiatan ritual yang berlangsung di rumahnya maupun di pura. Padahal Hyang Suryo perintis dan Pembina Budaya, itu di buktikan dengan adanya penghormatan terhadap peninggalan-peninggalan Majapahit seperti Kirab, bersih desa dan lain-lain yang berhubungan dengan Budaya untuk kesejahteraan rakyat Trowulan sendiri dan Nusantara. Pengumuman yang dipasang di rumahnya pada tanggal 16 Agustus 2002 lalu dilakukan oleh lurah dan pegawai Kecamatan Trowulan. Bunyi pengumuman tersebut adalah.
PENGUMUMAN:
Berdasarkan:
   1. Keputusan Bersama Mentri Agama dan Mendagri No. 01/BER/MDN-MAG/69.
   2. Perda KAB. MOJOKERTO NO 16 TH. 83. (MENUTUP BANGUNAN, MELARANG KEGIATAN RITUAL DAN KEGIATAN DALAM BENTUK APAPUN MUSPIKA TROWULAN. Pancasila dan UUD 1945 pasal 29 tidak berlaku lagi makanya simbol Pancasila penulis pasang diatas karena semua harus berdasar sariat Arab yang diterapkan di negeri ini, kejawen ditumpas, penganut kepercayaan di singkirkan. Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia hanyalah mimpi. Kebebasan melaksanakan keyakinannya hanya slogan kenyataannya kawula alit yang sudah bodoh tambah bodoh lagi pikirkanlah mumpung otak kita belum gila, masih bisa berfikir dan melihat.
(Aneh Rumah kog disegel padahal disekelilingnya ada rumah didepannya ada musola atau tepatnya Langgar tempat orang-orang yang melanggar dibiarkan tidak disegel, tapi semua sudah mendapatkan pahala yang mereka lakukan yaitu ada yang tewas kecelakaan, sengsara, stress dan masih banyak lagi yang tidak bisa dijelaskan satu-persatu. Rumah/Griya Raja Majapahit masa kini disegel sampai detik ini dengan alasan yang tidak jelas). Lebih menjengkelkan hati Hyang Suryo (56 tahun katanya sesuai KTP padahal tidak ada yang tahu kapan Beliau lahir kecuali orang tuanya dengan leluhurnya itupun alasan Beliau untuk menutupi karena orang jaman sekarang sudah tidak ada gaibnya karena gaib cuma milik Arab) yang kini ada di Bali, Pura Majapahit siap dirobohkan oleh orang-orang yang sirik dan tidak bertanggungjawab seperti Karyono takmir mesjid cempa karena merasa iri dan Nyoman Amplig oknum ketua PHDI Kuta Selatan yang banyak dicaci maki orang. Penyerbuan dan pembongkaran Pura yang berdiri megah dilakukan 30 Agustus 2002. Ceritanya ketika itu dilangsungkan acara salat Jumat yang digelar oleh umat dari Desa Segaran, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Selesai shalat Jumat, papar Hyang Suryo yang Ber-Abhiseka Sri Wilatikta Brahmaraja XI Keturunan Brahmaraja atau Hyang Wisesa dengan Dara Jingga, yang sudah ada di Bali sejak dulu yakni di Pura Besakih .Sabda Brahmaraja dengan kesal, bukannya mau pulang, namun Pura Majapahit yang tidak bersalah hendak dirobohkan. 
Persis seperti 500 tahun yang lalu waktu Majapahit diserang tentara Islam Demak pas gerebek maulud yang memanfaatkan orang-orang Jawa yang sudah dibodohkan dulu atau dibuat tidak mengerti dan memang ini pekerjaan para Dajjal yang berseberangan sendiri dengan Islam yang dibawa Muhammad contohnya Keraton Islam demak tidak terlacak pada waktu hanya ingin menguasai dan cerita cucu Nabi Muhammad hasan-husain di bunuh supaya keturunannya musnah inilah memang siasat Dajjal yang sudah merasuki sesama bangsa ini, massa di ajak menyerbu atau menyesatkan tanpa tahu apa maksud dan tujuannya yang penting keinginan ketua Dajjal tercapai, ingat saudara-saudari jangan mau diadu dan dipecah belah lagi oleh para Dajjal, tapi kalau masih ada, penulis ya… maklum memang mereka tidak tahu, bodoh dan diciptakan untuk tidak mengerti atau memang mereka tahu namun ingin memanfaatkan kebodohan bangsa ini). Namun, ketika mau di robohkan, ada empat Kiai yang melakukan pencegahan. Ke empat kiai itu adalah, K H. Manan, ulama setempat, H. Abdul Muchid, H. Sofyan, H. Noerhadi,
Ke empat ulama ini berupaya mencari damai dengan Bupati Mojokerto, namun sayangnya, Bupati Mojokerto Drs. Ahmacdy, M.Si, MM, ada di Bali. Ulama tersebut hanya bisa bertemu dengan Arief, (Kakanwil Kesbanglinmas). Menurut orang-orang yang mau merobohkan pura, katanya Hyang Suryo, sudah mempunyai kesepakatan akan membongkar sendiri puranya, seperti yang telah dijanjikan setahun yang lalu (terulang sepeti di desa Belalang yang jauh dari Beraban itupun ketakutan Kepala badan otorita akhirnya flu burung masuk beraban Tanah Lot padahal pemikiran Hyang Brahmaraja untuk jauh kedepan seratusan tahun kemudian).
Hyang Suryo dicap sebagai menyebarkan agama Hindu padahal Hyang Suryo bukan Hindu atau Budha atau Agama lain yang diimport oleh Penjajah yang pernah menguasai negeri ini. Tapi ber-Ageman Siwa Buda sesuai keyakinan Majapahit yaitu percaya melalui leluhur/orang tua sebelum kehadapan Tuhan YME/Alloh/Allah/Hyang Widhi/Thian banyak sebutan yang di Islam disebut Asmaul Husna, pada waktu itu hingga kita semua menjadi besar, dengan Kitab Purwa Bumi Kamulan dan kitab-kitab Majapahit Lainnya yang menjadi tonggak dasar berdirinya paham ke leluhur dan terbukti sejarahnya mengatakan seperti itu, jangan ungkap Majapahit yang perang saja jeleknya saja tapi kasunyatannya Majapahit menjadi Negara Kerajaan Nasional pertama menyatukan Nusantara, serta kembali membesarkan ritual yang setiap saat dilangsungkan di pura. Itulah sebabnya rumahnya dan pura disegel sampai sekarang. Sebagai upaya untuk menghindari hancurnya pratima yang ada di pura, akhirnya diputuskan segala benda yang ada di pura diboyong di Bali itupun di undang oleh keluarga Besar Majapahit karena memang hanya Bali yang sampai sekarang melestarikan adat Majapahit beserta purananya termasuk orang-orangnya melewati masa Majapahit bukan melewati masa Jahilliyah.
Pernah Pratima (Patung peninggalan leluhur yang ada yoninya/taksu) nyejer di Kintamani, Bangli, tepatnya di tempat pameran pusaka Majapahit. Menurut Hyang waktu, pratima akan nyejer selama kondisi buruk masih mengancam pura, kapan akan kembali ke Pura Majapahit belum ada kepastian. Umat Hindu yang ingin melihat pratima warisan Majapahit itu kini tidak perlu ke Pura Majapahit di Trowulan, karena sudah nyejer di Hotel Lake View, Kintamani.Hingga diundang ke GWK sampai akhirnya melinggih atau ber-Stana di Pura Ibu Majapahit Jimbaran atau Cin Kwang Si. Diakuinya tempat itu memang bukan dipilih sembarangan, melainkan atas pawisik dari leluhur dan banyak saksi yang merasakan aneh contohnya P.Gadeng mantan Klian Br.Buana gubuk banjar dimana Pura/Keraton berada didalamnya ada Puri dan Purananya. A.A Ngurah Darma Putra S.H, Jang Kwok dan masih banyak lagi yang menyaksikan hingga menjadi bukti kebesaran Majapahit waktu mengikuti Putra Mahkota Majapahit.
Hyang Suryo terus melawan. Ia sudah berkirim surat kepada Kapolda Jawa Timur di Surabaya waktu itu . Surat tersebut intinya mohon keadilan. Surat yang ditandatangani 23 September 2002 ditembuskan kepada Pangdam Brawijaya dan Para Kerabat Majapahit.
Diakuinya, Pura Majapahit, memang selalu ramai dikunjungi oleh kerabat dari berbagai agama, bahkan dari India dan Arab juga ada datang ke pura ini. Sehingga pura menjadi ramai hampir setiap hari.
Dengan ramainya kunjungan umat, Hyang menyebut pura ini Pura Pancasila yang sebagai dasar Negara, karena orang yang sembahyang bukan hanya dari kalangan Hindu dan Budha, namun datang dari kalangan muslim, dan umat lainnya yang masih percaya dengan Majapahit sebagai leluhurnya, karena memang kita berasal leluhur dari bangsa Indo-Cina Bukan dari Timur tengah atau yang lainnya memang ajaran Agama mengajarkan langsung ke Tuhan tapi tuhan juga menciptakan Malaikat dan Leluhur/Orang Tua. Majapahit Cuma mengajarkan berbakti dengan Orang Tua/leluhur biarlah leluhur yang menyampaikan kepada Tuhan. Paham saudara-saudari !!.
Parisada Diam, MUI bingung, Walubi belum tahu, HPK tak berkutik
Meski Pura Majapahit itu sudah disegel, Parisada baik yang di Jawa Timur maupun di Pusat ternyata diam saja. Adalah I Ketut Sudana dari Banjar Tegal lantang Kaja, Denpasar, yang berani menulis surat pembaca di Harian Bali Post, yang dimuat pada hari Minggu (2/3/2003). Sudana mengaku sedih, tempat suci untuk menghubungkan diri dengan Hyang Widhi dijegal oleh SK Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 16 Tahun 2003.
Selain mengaku sedih, Sudana juga mengaku prihatin, sebab bagaimana kalau nasib sejumlah pura di tempat lain diberlakukan demikian, sementara Parisada hanya bisa menonton saja. Karena itu, selaku umat, Sudana mengharap agar ada komentar dari PHDI. “Parisada hendaknya memberikan penjelasan terhadap kasus yang menimpa Pura Majapahit Pusat itu,” tulisnya. (Ketakutan membela tempat leluhurnya karena akan dipecat oleh Arab tercetus oleh lembaga ini yang mandul) ,Pemerintah sukses memecah belah dengan adanya Agama yang diresmikan tidak meliha kasunyatan . Berita TV, Koran dan lainnya. Warga Bali sudah di cap Hindu tapi prakteknya adalah Siwa Buda Bujangga arahnya keleluhur dulu.
Ternyata toleransi yang diberikan umat Hindu di Bali terhadap umat non-Hindu tidak sebanding yang diterima umat Hindu di luar Bali (itu sebutan mereka biar mudah ditumpas). Dari kasus di Trowulan itu, dan kasus-kasus diskriminatif di tempat lain, umat Hindu harus dewasa dan berani bersikap. Jika umat Hindu terus polos dan “manut-manut wae”, hanya tinggal menunggu waktu, umat Hindu akan semakin mengecil dan pada akhirnya habis. Bali sebenarnya melaksanakan serta melestarikan Adat dan Budaya Majapahit hingga dikenal seluruh Dunia. Di terapkan Ageman Siwa Buda (Purusa dan Predana=Ayah dan Ibu, lihat semua yang di Bali baik sanggah kamulan sampai Pura Besar Kahyangan Jagad menghaturkan bakti dengan leluhur dengan cara melinggihkan dan mengupacarai). Pemerintah mencanangkan Hindu pada tahun 1961. Dan Agama Hindu katanya berasal dari India, tetapi Bali tidak identik dengan India, bisa di cek sendiri. Lontar-lontarnya, Bhisamanya ataupun orang-orangnya. Pertanyaannya ?.
Adakah umat Hindu di Bali berani mempermasalahkan tempat ibadah umat agama lain? Lebih dari itu, maukah Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri membuat SK pembekuannya andai ada umat Hindu di Bali yang menyampaikan keluhan terhadap tempat ibadat umat non-Hindu yang kini bertebaran di desa-desa?. Sekarang tidak masalah Pura Majapahit Trowulan sebagai pusat/simbol Nusantara sudah buka Pusat Informasi Majapahit masa kini. Di utara KOLAM SEGARAN. ” Becik ketitik Olo Ketoro ”. Memberikan kasunyatan tidak untuk disewotin tapi untuk direnungkan. Bukan menentang sejarah penguasa tapi memberikan fakta. Majapahit itu masih ada, keturunannya, adatnya, dan simbol-simbolnya. Lihatlah sekeliling Anda ritual-ritual asli Nusantara yang tidak Impor itulah peninggalan Majapahit di bumi Nusantara dicontohkan sama dengan Jalan aspal ini peninggalan Orde Baru senang ataupun tidak. Pahamkan maksud penulis !. Terima Kasih kasunyatan ini di ambil dari berbagai sumber dan bukti yang diikuti oleh saya sendiri dan saksi serta dokumen yang untuk kebanggaan Nusantara sendiri, nantinya tidak selalu membanggakan sejarah bangsa lain, bangsa timur tengah misalnya dan penjajah lainnya yang sudah membodohi kita hingga tidak tahu dengan kebesaran bangsa sendiri. Majapahit tidak anti Islam terbukti, tapi penulis anti orang yang mengatasnamakan Islam untuk melakukan kekerasan, memberikan cap kepada orang atau kelompok lain sesat tidak melihat “jithoke dewe”.

RAHASIA MAJAPAHIT DI BALI SELAMA RATUSAN TAHUN

Radar Bali untuk Anda semua dari Jawa Pos Group [ Sabtu, 20 September 2008 ]
Rangkaian meja upacara letter hurup L tertata di balai areal Candi Ibu Majapahit, Jimbaran. Sebuah meja lengkap dengan banten upakara berdiri di depannya. Di atas meja itulah diletakkan pratima Ganesha dua muka (gajah dan kala). Diyakini pratima itu simbolis ritual caru rsi gana di Majapahit-Bali. (Salah satu bukti fakta bahwa Bali adalah Majapahit, kasunyatan)
JIMBARAN – Siang itu langit begitu bersih. Areal Candi Ibu Majapahit di Puri Gading, Jimbaran tampak lengang. Hanya tampak Hyang Suryo (Sri Wilatikta Brahmaraja XI), Mangku GRP.Noko Prawiro, Komang Edy (Mbiyokong Klenteng Sinar Emas/ Cin Kwang Si), serta tiga orang pemedak di areal candi yang menyatu dengan Klenteng Cin Kwang Si tersebut. Karpet empuk warna hijau ukuran 4×5 meter terhampar di balai. Persisnya jadi alas meja persembahyangan tempat Pratima Ganesha-Kala di-stanakan tersebut. ”Pratima Ganesha-Kala ini kami ambil dari Trowulan, Mojokerto, Jatim,” kisah Hyang Suryo, mengawali wawancara dengan koran ini, tiga hari lalu. Sesekali Hyang Suryo menghalau seekor anjing putih yang coba mendekat ke karpet. Bagaimana bisa dibawa ke Bali ?.
Ini bermula permintaan World Hindu Youth Organisation (WHYO) terkait 2nd Ganesha Caturthi Festival 2008 yang dilakukan pada 6-7 September lalu di Pura Jagatnatha dan Pantai Matahari Terbit, Sanur, Denpasar. Yakni, dirangkaikan dengan ritual Caru Rsi Gana Jagat Raya (Redite Pon Wuku Medangsia Sasih Katiga Tahun Saka 1930). Berangkat dari keyakinan mereka, kegiatan ini bertujuan, menguatkan kembali pemahanan nilai spiritual Dewa Ganesha.
Terkait tugas beliau sebagai Dewa Kebijaksanaan, Penolak Bala, dan Penglukatan. Makanya, dari ritual tersebut dimaksudkan sebagai upaya pembersihan dunia lewat permohonan kekuatan penglukatan Dewa Ganesha. Di luar agenda WHYO tersebut, Hyang Suryo sendiri ngaku sebelumnya menerima pawisik. Yakni, soal hubungan ritual caru rsi gana dengan keberadaan pratima Ganesha-Kala tersebut. ”Bermula saya melihat orang Bali saat melakukan upacara caru rsi gana melakukan gerakan pembersihan juga membawa bendera bergambar Ganesha,” beber Hyang Suryo.
Dari situlah dia berpikir (selain juga menerima pawisik), ternyata pratima peninggalan kakek-neneknya: Mbah Gede Ngadri-Mbah Putri Gading Ludoyo (Gebang Lor, Blitar). Dia mengotak-atik pawisiknya dengan teori sederhana saja. Soal pratima Ganesha yang dicocokkan dengan bendera Ganesha di Bali. Lantas kepala kala yang disimbolkan (di Jawa) sebagai sarana untuk upacara ruwatan.
Dan, ujung-ujungnya ada kemiripan. ”Dalam hati, saya bertanya-tanya kok orang Bali upacara ngruwat (ruwatan/odalan/ pembersihan, Red) pakai nggawe (memakai, Red) Ganesha,” urainya, mengungkapkan rasa penasaran sebelumnya. Dengan bahasa sederhana pula, Hyang Suryo mengurai kalimat caru rsi gana. Di mana, caru dimaknai sebagai kegiatan ruwatan yang di Jawa dikatakan identik dengan kala. Sedang rsi gana dimaknai dengan simbolis Ganesha tersebut. Rupanya, tanda tanya tersebut akhirnya terjawab di ada rangkaian ritual (WHYO) di Pura Jagatnatha, Denpasar, pada 6-7 September lalu.
Saat itu saya bertanya kepada Ida Pedanda Made Gunung soal pecaruan rsi gana yang dikaitkan dengan keberdaan pratima Ganesha-Kala tersebut. ”Dan Ida Peranda Sebali Tinyar menjawab benar. Maka, terbukalah rahasia ritual dari pratima peninggalan Majapahit dengan persembahyangan orang Hindu Bali tersebut,” bebernya senang sambil ngaku setelah sekitar ratusan tahun rahasia itu terungkap. (djoko heru setiyawan)
DARI TROWULAN VIA DARAT
Selama ini pratima Ganesha-Kala tersimpan di Puri Surya Majapahit Pusat di Trowulan, Jatim. Sebelum pada Jumat (5/9) lalu masuk Bali via darat. Tapi, sebelum dibawa ke Bali, selama di Jatim mulai 2 September lalu dikirab ke Candi Simping di Desa Jimbe, Blitar. Juga ke candi-candi lainnya. Lantas masuk Bali via Gilimanuk, Jembrana.
Selama perjalanan Gilimanuk ke Candi Ibu Majapahit, Puri Gading, Jimbaran, terlebih dahulu dibawa mampir ke beberapa pura dalam perjalanan. Salah satunya ke Pura Rambut Siwi, Jembrana. Lantas pada Sabtu (6/9) dibawa keliling Denpasar sebelum nyejer di Pura Jagatnatha, sehari semalam.
Terkait rangkaian ritual kirab Pratima Ganesha dengan rute Pura Jagatnatha-Pantai Matahari Terbit, Sanur, dilakukan pakemitan di Jagatnatha pada Sabtu malam.
Saat itulah, pratima ini disambut tarian barongsai dari Kongco Dwipayana, Tanah Kilap, Denpasar. Selama pratima di Jagatnatha, banyak umat hadir. Ada yang berdoa, minta berkah, hingga kerauhan. ”Ada yang istimewa, malam itu saat pratima Ganesha-Kala di Jagatnatha hampir semua wilayah Denpasar diguyur hujan, tapi di Pura Jagatnatha tak turun hujan,” papar Mangku Noko Prawiro.
Begitu juga ketika dilakukan kirab ke Pantai Matahari Terbit. Pratima itu dibawa Hyang Suryo yang naik dokar, selama perjalanan, kuda penarik dokar meringkik (ala kuda jingkrak) terus menerus. ”Ini kami duga kuda tersebut terpengaruh kuatnya tuah pratima Ganesha-Kala,” sambungnya. (djo)
BERJODOH DENGAN KERIS GANESHA DAN TOMBAK KALA
KEANEHAN lain yang diakui Hyang Suryo semenjak pratima Ganesha-Kala di Bali. Ternyata, ketemu jodohnya, bisa disebut pengawal. Karena ternyata, dari koleksi ratusan keris Hyang Suryo di areal Candi Ibu Majapahit, ada sebilah keris Ganesha dan tombak bermotif kala. ”Ini memang jodoh. Dari ratusan keris yang saya miliki, semuanya berpasangan.
Kecuali keris Ganesha ini. Tak tahunya berjodoh dengan pratima Ganesha-Kala. Begitu juga tombak kalanya,” ungkap Hyang Suryo yang lantas menjajarkan kedua senjata itu di kanan dan kiri pratima. Kejadian lain yang dinilai berbau niskala adalah saat dilakukan ritual di Pantai Matahari terbit, Sanur, terkait kirab pusaka WHOY tersebut. Saat itu, wakil umat India (rombongan Agni Hotra) hendak melalukan ritual pakelem di laut Sanur.
Mereka membawa enam buah arca Ganesha. Saat yang sama, umat juga diberi kesempatan berdoa di sekitar pratima Ganesha-Kala yang nyejer di pantai tersebut. Tiba-tiba, di tengah pakelem, ada pemedak (dipanggil Ibu Eka) kerauhan. ”Lebih baik saya saja yang ditenggelamkan ke laut. Arca Ganesha ini jangan,” kata Eka seperti ditirukan Hyang Suryo.
Diuraikan, saat bicara demikian, Eka memegang erat salah satu arca Ganesha yang hendak dilarung ke laut. Dan, akhirnya satu arca ini tak jadi dilarung. Sehingga, yang dilarung hanya lima arca saja. ”Kini arca Ganesha yang tak jadi dilarung itu kami tempatkan di gerbang Candi Ibu Majapahit ini,” beber Hyang Suryo sambil mendongak menunjukkan arca dimaksud di depan balai tempat wawancara. (djo)
NB: Inilah yang akan saya kupas bukti-bukti bahwa Bali adalah Majapahit, Dunia melihat Bali karena adat ritual serta Budayanya dari Majapahit dilestarikan. Seharusnya bangga dengan sejarah yang pernah melewati masa kejayaan Majapahit sebelum di hancurkan kaum penjajah termasuk pedagang Gujarat Arab. Tunggu berita selanjutnya. Rahayu…Rahayu…Rahayu.
Dulu Gemah Ripah Loh Jinawi bisa dilihat Bali kasunyatan Majapahit dikira keturunan masa Majapahit musnah.Ironis sejarah bangsa ini justru yang lebih tahu bangsa Eropa. Bangsa Indonesia kemana..??.
Maklum terlalu lama dijajah termasuk sampai saat ini, hingga kebebasan mengemukakan pendapat dan keyakinannya ditentang oleh pemeluk keyakinan Arab, padahal disini sudah berdasarkan Pancasila tetapi tetap terkekang.
Pancasila hasil Maha karya Mpu Tantular. Majapahit .Lontar-lontar saking Majapahit. Kitab Purwa Bumi Kamulan, masih banyak lagi yang harus diungkap bukan dongeng. Slogan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa adalah semboyan Majapahit hingga bisa menyatukan Nusantara. Fakta…Bali bukan dari India tapi India pernah menjadi bagian dari Negara Majapahit yang disatukan oleh Rakyan Mahapatih Hamangkubumi Gadjah Mada dari Madakaripura.

PURA/KERATON MAJAPAHIT PUSAT GWK

  • Pura ini berdiri awal 2004 tepatnya tanggal 26 Januari atas undangan Direktur Utama GWK sebagai investor yang pertama beserta Forum Study Majapahit karena memandang sangat penting untuk perkembangan GWK itu sendiri. 

Selain memohon secara niskala/gaib juga ingin menarik wisatawan untuk datang ke Bali setelah terpuruk oleh keadaan Bom Bali yang menghancurkan roda perekonomian Bali. Kronologisnya pada November 2003 Pratima Prabu Airlangga yaitu Wisnu naik Garuda pada saat itu di Bali mengadakan Upacara Prayascita Gumi, kebetulan ada seorang parlente dengan berpakaian adat Majapahit Bali disamping itu juga ada mangku Pastika (menjabat Kapolda Bali dan Gubernur Bali selanjutnya. 


Orang yang dibilang parlente ini berwajah kuning, dengan badan agak kecil, Orang tersebut bilang,”Nanti kalau selesai acara ini,pindah saja ke GWK saya sediakan tempat”,Katanya. Orang tersebut memberikan kartu nama sebagai Direktur Utama GWK, kemudian setelah lama berselang kebetulan Brahmaraja XI sebagai Penglingsir / Raja Majapahit berada di Puri Anom Tabanan pas hari raya Imlek waktu bersama GM Hotel Santika bernama Suryawan sekitar jam 12 malam. 


Paginya jam 8.00 ada yang terburu-buru menjemputnya, orang itu mengatakan “Mari Hyang kita berangkat ke GWK!”. Dengan terburu-buru mandi dan ikut dengan orang yang menjemputnya. Sesampainya di sana, baru tahu ada Patung Prabu Airlangga yang lagi dalam tahap pembangunan. Sama persis dengan yang asli seperti Pratimanya yang saat itu masih berada di Jawa. Setelah di Undang untuk kepentingan Bali bukan orang yang dilihat oleh Brahmaraja kenapa karena Bali sampai detik ini melaksanakan Ajaran Majapahit. Orangnya biarlah sudah di hindukan tapi prakteknya adat budaya Majapahit. 

” Kapan bisa masuk GWK”. tanya Brahmaraja. Selanjutnya Putu Antara berunding dengan stafnya karena tempatnya belum dihias, belum dibersihkan, belum diplaspas. Karena alasan itulah, kemudian di beritahukan 10 hari lagi. Nah, setelah itu Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI kembali ke Jawa, ternyata setelah di Jawa, Pura Majapahit Keprabon tempat ber-Stananya leluhur berupa Pratima Airlangga Naik Garuda juga sudah mendapatkan undangan resmi beserta paket dan faksnya. 

Kemudian Pura Majapahit Jenggala juga mendapatkan Undangan secara resmi untuk memohon ijin mengiring Pratima ke GWK Bali untuk kerahayuan jagad Bali. Hyang Brahmaraja mengatakan Pura Majapahit Keprabon tempatnya di utara tempatnya Wisnu sedangkan di Pura Majapahit Jenggala tempatnya di selatan melinggihnya Hyang Brahma sesuai lontar Majapahit. 

Dengan demikian tidak rapat lagi bahwa beliau akan melinggih di Selatan demi Bali semoga beliau berkenan. Tepat hari kesepuluh Hyang Brahmaraja pun datang ke Bali, dengan menggunakan dua jalur jalan darat dan udara (persis seperti perjalanan Hyang Nirarta atau Dwijendra bergelar Ida Peranda Sakti Wau Rauh. Sesampainya di GWK sudah disiapkan ruangan dengan hiasan lengkap.Di mana Sri Wilatikta Brahmaraja XI berdiam disitulah Puri Pura dan Purana itu ada, selanjutnya dilaksanakanlah upacara Ngenteg linggih, yang mana dipuput Ida Pedanda Bang Manuaba. 

  • Upacara yang besar ini sangatlah lengkap dihadiri oleh seluruh Keluarga besar Nusantara, simpatisan dan para pengayah bahkan dari luar negeri termasuk Raja Tibetpun ikut hadir. Maka Sahlah Ratu Bathara Prabu AIrlangga melinggih dilengkapi dokumen atau prasasti serta lontar dan bhisama. 

Karena Pura itu harus ada pelinggihnya maka biku sin dari pemuda Buda Dunia sekaligus direktur MGK memberikan tempat yang sekarang menjadi Pura Majapahit kebetulan bersebelahan dengan Rurung Agung (seperti sudah di kehendaki oleh Bathara). Tumpak Wayang dan Prangbakat beliau dilinggihkan disaksikan Presiden Hindu Dunia dan Maha Rsi dari India bahkan ikut menegen (melinggihkan red.)dan mensucikan serta Puri-puri seluruh Bali dan Jawa . Demi Majapahit.


Di mana Sri wilatikta Brahmaraja XI berada disitu jadi Pura atau Keraton karena Keratonnya ditutup.

    SEJARAH LELUHUR CIN GUANG SI DI PURA IBU MAJAPAHIT

    Masa kecil Dewi Kwan Im bernama MIAO SAN putri ketiga Raja Miao Ciang atau Miao Tu Huang Dinasty Zhou ( 1122-255 SM ) dari Negeri Xing Lin, China.(sejarah 3000 tahun tak terbantahkan sampai sekarang, 1122 Sebelum Masehi-2009 Masehi Tunggu berita selanjutnya karena fosil leluhur kita sudah jutaan tahun di Solo dekat bengawan, Trinil).
    Miao San lahir tanggal 19 bulan 2 tahun Kongcu – lik, putri ini sangat Welas Asih dalam melakukan Kebajikan, selalu berkorban dan berbakti pada orang tua dan Leluhurnya.

    Pada tanggal 19 bulan 6 yaitu pada usia 17 tahun memperoleh PENERANGAN dan mencapai tingkatan BODDISATTVA / HUD / FO.

    Pada tanggal 19 bulan 9 tahun yang sama mencapai KESEMPURNAAN berhasil Mokswa naik ke langit bersama badan kasar-Nya menjadi KWAN SE YIN PAO SAT Jien So Jien Yen atau Dewi Kwan Im Tangan Seribu – Mata Seribu – Kepala Seribu dan kini telah melinggih / Ber-Stana di Pura Ibu Majapahit Jimbaran atau CIN KWANG SI.

    Kakak Miao San adalah Miao Yin El dan Miao Yin El menikah serta kemudian hari menurunkan Raja Miao Li yang mempunyai putri bernama Yu Lan menjadi Permaisuri Brahmaraja, yang di era kejayaan Majapahit menjadi Panglima Perang dengan gelar BATHARA INDRA dan Yu Lan menjadi INDRESWARI setelah menjadi Raja Jenggala bergelar HYANG WISESA Permaisurinya bergelar RATU MAS MAGELUNG, Daha – Jenggala – Kediri akhirnya disatukan dengan nama TRILOKAPURA WILATIKTA dengan demikian Brahmaraja bergelar SRI WILATIKTA BRAHMARAJA TRILOKAPURA, sedangkan Permaisurinya bergelar SRI RAJAPATNI JENGGALA. Setelah Mokswa dan di Upacarai Srada di Manifestasikan Dewi Titisannya yaitu Dewi Kwan Im Tangan Seribu atau SRI RAJAPATNI BIKSUNI SAKTI PELINDUNG JAGADRAYA.
    Dewi Kwan Im selalu membawa botol Amertha atau wadah suci berisi Embun Welas Asih yang berkhasiat mensucikan segala kotoran ( dosa ) serta menyembuhkan.
    Dewi Kwan Im Miao San mengendarai Ikan Tombro yaitu lambang keteguhan menghadapi tantangan (seperti Ikan Tombro berenang melawan arus meloncati jeram) jadi seruan agar umat teguh tekadnya dan kuat menghadapi tantangan di dunia dengan jalan yang benar. Bertangan Seribu, Bermata Seribu bahkan Berkepala Seribu lambang bisa mampu menjangkau berbagai hal, Penyayang dan penuh Welas Asih. Kadang naik Bunga Teratai lambang Kesucian yang selalu bersih biarpun tumbuh di atas Lumpur, agar umat meneladani makna yang tersirat dalam kehidupannya.
    Demikianlah selama 3000 tahun Dewi Kwan Im Tangan Seribu di puja Dunia termasuk Majapahit. Masih di era Dinasty Zhou 1122 – 255 SM, tahun 563 SM putri Raja SAKYA Di kawin Raja KAPILAWASTU China Barat Laut/Nepal Yaitu Raja SIDHODANA, putri ini bernama MIAOHAMAYA kemudian mempunyai anak bernama SIDHARTA dimana kemudian hari berhasil Mokswa, Sidharta memperoleh PENCERAHAN SEMPURNA di usia 35 tahun. Kemudian pada hari PURNAMA KASIDHI hari Waisak tahun 534 SM Mokswa mencapai PARINIRWANA dan mendapat gelar BUDHA SAKYAMUNI ( Anak Putri Sakya yang mencapai Kesempurnaan ).
    Menyusul pada tanggal 27 tahun Pik Gwee tahun 551 SM saat Pemerintahan Kaisar CIU LING ONG Raja Muda Negeri Chun Ciu, seorang putri GAN TIEN CAY istri Pangeran SIOK LIANG melahirkan Putra bernama KHIU atau TING NI, orang ini kemudian menjadi GURU BESAR KHONG ( KONGCU ) yang belakangan di sebut Nabi Khong Hu Cu. Nabi ini menyempurnakan Ajaran Kebaikan pendahulunya, kemudian menjadi pelindung Pemerintahan di China. Keluarga Ibu Nabi Kong Hu Cu, Gan Tien Cay jaman Majapahit menurunkan GAN ENG CU Bupati Manila dan menurunkan GAN SI CANG Bupati Tuban. Setelah Majapahit runtuh 1522 M, maka masa Pemerintahan Dinasty Cing (1644 – 1911 M) di perintahkan tiap kota di bangun KLENTENG tempat Pemujaan Leluhur karena CANDI dan Tempat Ibadah SIWA – BUDHA dihancurkan oleh penganut Islam yang berpikiran seperti bangsa Arab yang suka berperang dengan berbagai alasan menurutnyanya.
    Terbukti di ungkap di media elektronik metro TV dan TV One serta Tran 7 (Jejak Rasul dan acara-acara Penumpasan, di Indonesia yang tidak mau masuk Islam di cap PKI, dan harus di bantai 1965, Yang kejawen disingkirkan, Sapta Darma digebuk pokoknya harus Arabisasilah, pikir sendirilah bukti kasunyatan lainnya para Dajjal yang berkedok Agama yang merasa paling benar dimuka bumi ini, pemerintah diam saja karena yang nggebuk mayoritas katanya.
     Dajjal…Dajjal kog kau rusak Pancasila hasil karya Majapahit kenapa kau rusak Bangsa kami yang dulu berbudi luhur sekarang menjadi anarkis. Mereka malah menganggap semua kebudayaan, pengobatan berasal dari timur tengah, padahal Nabi Muhammad bersabda,”Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Sebenarnya ada apa sih antara Cina dan Arab di masa lalunya, tetapi kenyataannya peninggalan yang di temukan banyak beronamen Cina, KASUNYATAN).
    Pada tahun masehi, China di Perintah Kaisar Dinasty Ciu abad 5 SM – 1 Masehi, Dinasty Han Barat abad 2 Masehi, di susul Dinasty Song abad 10 – 13 Masehi.Dinasty Gwan abad 13 – 14 M.Dinasty MING / BING abad 14 – 17 M, dynasty Cing abad 17 -20 Masehi ( ISIN GIRO FUJI Film “The Last Emperor 1909 -1990 ).
    Pada Abad 13 berdiri Dinasty MAJAPAHIT di mana terjadi Perkawinan Brahmaraja dengan Putri Miao Li, juga pendiri Majapahit yakni Prabu WISNU WARDHANA memperistri Putri Raja Miao Li yaitu YU LIN/DARA PETAK dan melahirkan Kala Gemet yang menjadi Raja Majapahit kedua dengan Gelar JAYANEGARA. Sedangkan Putri Raja Miao Li ( Mauliwarmadewa ) yang bernama YU- LAN/DARA JINGGA melahirkan ARYA CAKRA/SRI KERTAWARDHANA mengawini TRIBUANA TUNGGA DEWI Raja Majapahit Ketiga. Kakaknya Arya Damar jadi Raja di Sumatra, sedangkan adiknya yang bernama Arya Kenceng menjadi Raja di Bali.
    Parhyangan LELUHUR dahulunya berupa CANDI dimana Para Arwah / Atma Leluhur ( Jien ) di “ SEMAYAM ” kan, kemudian ada bangunan tempat membaca sejarah bila Raja atau orang penting datang, Sang Panditha membacakannya.tempat bangunan ini bernama YUAN, kemudian bangunan pelayanan Ritual/Upacara ( TING ), kemudian Pendopo ( AN ), Tempat Nginap ( KWAN ) di era Islam bangunan Candi dan sarananya di hancurkan.
    KLENTENG akhirnya ditutup tahun 1965 – 2000 oleh Pemerintah R.I, yang untung Bali semua bangunan peninggalan Majapahit tetap lestari hingga bisa dan terus di ODALI/di UPACARAI sampai sekarang dan ketika PURA LELUHUR KAWITAN PUSAT MAJAPAHIT TROWULAN MOJOKERTO JAWA TIMUR di tutup tahun 2001, akhirnya Para Leluhur di undang ke BALI agar bisa di Upacarai / di Odali hingga terwujudlah PURA IBU MAJAPAHIT JIMBARAN.
    Demikianlah sedikit sejarah singkat DEWI KWAN IM atau KWAN SE YIN PAO SAT yang di puja di Pura Ibu Majapahit ( CIN KWANG SI ) Jimbaran Bali. Untuk Keluarga besar Majapahit yang Islam, Keristen, Katholik, Kong Hu Cu, Hindu, Budha, Kejawen ataupun yang di cap tidak beragama oleh Dajjal, Kafir, sesat oleh pedagang Gujarat dari India dan Arab yang menjajah negeri ini biarpun mereka mengatakan agamanya damai, tetapi kenyataannya peninggalan leluhur yang belum kenal islam dihancurkan, Keraton/Puro Mojopahit Pusat Trowulan ditutup supaya nanti rakyat nusantara tetap setor uang ke arab, karena di sana memang sangat tandus dan gersang, disini sangat subur makmur, Siapa yang mau munafik bahwa Indonesia memang subur dan wanitanya cantik-cantik, yang masih tetap menjadi budak kalau sudah di sana (TKW).
    Ingat sejarah Bung, di sana pernah dijuluki bangsa Jahilliyah, masa dimana sangat bodoh. Lha !!!! Nusantara sudah Gemah Ripah Loh Jinawi, banyak fakta banyak bukti, pikirkan dan renungkanlah !!!). Tapi yang tidak merasa Dajjal jangan sewot dan sewit, Kita jangan mau di adu domba lagi, merasa paling benar dengan kekerasan jalan keluarnya, sedikit-sedikit fatwa sesat, hingga menimbulkan kerukunan persaudaraan musnah.
    Ingat semua Agama yang di bawa ke Nusantara ini, hasil Import atau pernah di bawa oleh PENJAJAH siapapun mereka, kita sudah punya peradaban yang sangat bagus, terbukti peninggalannya masih bisa dilihat yakni salah satunya Candi Borobudur dan Prambanan biarpun cuma dipakai tempat wisata karena masyarakatnya sudah keyakinan lain katanya. Dan masih banyak lagi peninggalan-peninggalan yang berserakan tanpa kita, bangsa ini mau memperhatikan dan membanggakan.
    Diarab cuma satu.Salam jangan mau kita di peras dan di adu domba lagi, wahai saudaraku setanah air. Banggalah punya sejarah yang pernah menyatukan Nusantara. Boleh saudara-saudariku mengenal sejarah Arab, jerusalem, vatikan ataupun didunia ini dengan nglontok/hafal tapi tidak ada salahnya mengenal sejarah bangsa sendiri dengan bangga.
    Sejarah Silsilah Keluarga Besar Majapahit versi Khusus sejak dulu sesuai kebenaran yang jarang diungkap

    BANGKITLAH PEMUDA-PEMUDI MAJAPAHIT

    Pidato terakhir pendiri RI Bung Karno adalah “JANGAN SEKALI-KALI MENINGGALKAN SEJARAH” yang dikenal “JAS MERAH”. Kita bukannya ingin mundur ke masa lampau,tapi kita harus bisa bercermin pada sejarah. Sejarah kita sangat lah hebat, dimana Kejayaan Majapahit yang mendapat predikat “KERAJAAN NASIONAL PERTAMA DI DUNIA” dimana GAJAH MADA Mahapatih Majapahit dengan semboyan “BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DHARMA MANGRUWA” berhasil menyatukan nusantara.
    Ramalan SABDHA PALON menyatakan Majapahit akan bangkit lagi setelah 500 tahun keruntuhannya 500 tahun yang lalu.
    Maka dari itu, para pemuda dan pemudi Majapahit harus bisa menyambut RAMALAN ini dengan berjuang. Contoh Bung Karno berjuang didukung rakyat yang mimpi Ramalan Jayabaya akan berwujud dan benar-benar terwujud.
    “Kebo bule kalah karo jago kate wiring kuning cebol kepalang” (Kebo bule/Belanda akan kalah aloh jago kate warna kuning, pendek sekali) ternyata benar sebuah ramalan NISKALA tanpa diperjuangkan secara SEKALA pasti tak terwujud, Ramalan Sabdo Palon pun sudah merakyat dan meraka mimpi akan segara terwujud, Lawan dan Kawan sudah sama tahu ramalan ini, dan tentunya berjuang menghambat atau berjuang mewujudkan.
    Penutupan PURI SURYA MAJAPAHIT TROWULAN sebuah contoh dimana di dalam puri ada PURA MAJAPAHIT dan Purananya ditutup, dengan SKB Menteri Agama dan Mendagri No: 1/BERN/MDN/1969. Bahkan candi para Leluhur Majapahit mau dirobohkan serta sulinggih agama Hindu yang tangkil ke pura sempat diseret keluar oleh imam/takmir Karyono disaksikan Kapolsek Trowulan Mojokerto di depan Muspika, tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain. Hyang Suryo Ketua/Penglingsir Puri Surya Majapahit oleh Ketua Pemuda Ansor Koirul Huda dituduh; meng-Hindukan orang padahal, Pura Majapahit adalah Pura Kawitan/Leluhur dimana semua beragama bisa tangkil karena manusia berasal dari Kawitan (Lingga-Yoni). Akhirnya masa yang didukung imam/takmir Karyono, Ketua Ansor Koirul Huda, Ketua Fraksi PKB anggota DPRD Mojokerto: Nurhadi, menyerang Puri, umbul-umbul, penjor dan lain-lain diturunkan semua termasuk papan nama Pura Majapahit. Ancaman, intimidasi, serbuan mewarnai Pura Majapahit. Bahkan penduduk sekitar oleh imam/takmir Karyono disuruh mengungsi Karena Pura Majapahit mau di Bom.
    Menghadapi semua ini terjadi keanehan mangku Pura keraohan RATU MAS/MEME GANGGA, beliau berkata: “Dhe enyeh, meme dini jani, di meru kengken iye nguwuke, meme kel munggel nyen sing demen meme ke nguwuke”. Keajaiban terjadi Camat Trowulan yang nempel surat penutupan strok (lumpuh) masuk rumah sakit kurang lebih 3 tahun dan tewas. Ketua Ansor Koirul Huda dikeroyok, digebuki orang dan sakit dioperasi ginjalnya, dia dulu tinggi besar sekarang tubuhnya kurus mengecil dan banyak kejadian, orang yang tidak senang juga jatuh melarat rumah terjual, sakit dan lain-lain.
    Akhirnya karena Pura Majahit Trowulan ditutup, leluhur Majapahit pindah ke Bali Leluhur Wisnu-Budha di candikan di GWK Ungasan, Ganesha-Budha di Buleleng dan IBU MAJAPAHIT di candikan di Puri Gading Jimbaran Banjar Buana Gubug.
    Demikian lawan menuduh meng-Hindukan orang, Kawan (pemuda Hindu) member penghargaan Hindu Muda Award 2006. Lawan dan Kawan Mengakui Hindu, sedangkan saya “Cri Wilatikta Brahmaraja XI” (Hyang Suryo) tidak berani mengaku Hindu karena masih BERJUANG.
    KALIANLAH WAHAI PEMUDA DAN PEMUDI MAJAPAHIT, BERJUANGLAH!!! Mewujudkan RAMALAN LELUHUR MAJAPAHIT Yaitu 500 TAHUN KEMBALINYA MAJAPAHIT.
       SELAMAT BERJUANG!!!
    (Narasumber pembicara rembug nasional; Prof. Dr. I Made Titib, Ida Bagus Agastya, Sri Wilatikta Brahmaraja XI)

    Renungan Hanya Untuk Orang Yang Cinta Tanah Air

    Jutaan karya anak bangsa yang menjadi kesenian dan keunikan yang patut dilestarikan dan dikembangkan demi harumnya nama baik nusantara. keanekaragaman budaya dan adat yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Karya-karya leluhur dengan seninya dan arti religius tersendiri, yang sampai detik ini tetap kokoh berdiri. Betapa eloknya, betapa bangganya, betapa indahnya keragaman karya-karya nusantara di bawah satu-kesatuan yang utuh menjadi payung Pancasila menjadi simbol Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.

    Hidup dengan kebersamaan, berdampingan, erat tali kasih tanpa memandang suku, agama(kepercayaan), budaya, ras dan saling menghargai dari perbedaan tersebut dijadikan satu sebagai ujung tombak pemersatu bangsa. Sungguh indahnya kalau semua itu bisa terwujud seperti sedya kala. Tanpa ada kekerasan, perpecahan ataupun kejahatan karena pada dasarnya nusantara ini adalah satu kesatuan yang utuh, semua adalah saudara. Satu misi satu tujuan demi kebahagian, kedamaian baik individu, masyarakat, ataupun negara. Payung yang dipakai adalah sama, yaitu nusantara di bawah kendali Pancasila, UUD 1945 di ayomi oleh Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.
    Kenapa harus ada kekerasan? Kenapa harus ada perpecahan? Kenapa ada kebencian? Apa untungnya semua itu? Pernah kita melihat dan memandang dengan ketiga mata kita sendiri, betapa sedihnya kalau kita menyaksikan apa yang terjadi di nusantara ini, betapa malunya kita kepada leluhur kita sendiri ??? 
    Warisan budaya leluhur yang adi luhung, yang gemah ripah loh jinawi diinjak-injak bangsa sendiri. Mana yang namanya kawan sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah dendam dan lawan. Inikah kepribadian bangsa Indonesia saat ini. Apakah kita semua tidak malu dengan leluhur kita dulu yang sempat menjadi negara terbesar di seluhur dunia, dipuja-puja dunia, dan berhasil menyatukan nusantara di bawah Maha Patih Gajah Mada. Lari kemana kebangaan semua itu? Dulu saja bisa mewariskan nama harum kepada anak cucunya, nama yang tidak bisa hilang diingatan kita kecuali orang yang sudah lupa ingatan. Orang yang tidak mengenyem pendidikan saja bangga terhadap nusantara, bangga terhadap tanah air (ibu pertiwi) yang sudah memberikan, sandang, pangan dan papan kepada kita semua, ya mungkin kebanggaan itu sekarang sudah dilupakan, rasa cinta tanah air sudah berpaling dengan yang lain. Padahal ada pepatah mengatakan “dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. 
    Kepentingan individu, kepentingan kelompok, atapun golongan menjadi jawaban semua itu. Dimana persatuan itu berada sekarang? Sembunyi dimana persatuan dan kesatuan itu berada? Semua sudah diracuni dengan nafsu dan material, karena material sudah bicara. Semua diukur dengan material sampai-sampai harga diri pun juga dijual. Bukannya sok suci atau pun gimana, karena kenyataan sudah bicara.
    Mau dibawa kemana nusantara kita sekarang? Nusantara dalam cengkraman!!!!!!! Rambu-rambu itu sudah menghiasi diri masing-masing. Nasib bangsa Indonesia dengan negara yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawi toto tentrem kertho raharjo bernasib ironis. Sungguh mengherankan, dan dibuat tercengang terlahan-lahan kita. Tanah yang kita tanami subur makmur, banyak sumber daya alam, banyak hasil bumi yang seharusnya dimanfaatkan untuk mengayomi masyarakat sendiri. Malah dipakai untuk menggemukkan perut orang lain, naas sekali, malang sekali bangsa Indonesia saat ini.
    Perubahan demi perubahan untuk mengangkat kembali martabat dan derajat tanah air, pemikiran dari individu, kelompok, ataupun golongan yang bersifat membangun perlu dieratkan lagi. Tanpa adanya diskriminasi, tanpa adanya pengucilan baik yang berbau SARA ataupun yang lainnya. Karena kita hidup dalam perbedaan, tidak bisa kita memaksakan kehendak orang lain dengan mengatasnamakan kepentingan SARA ataupun sebagainya. Karena individu juga mempunyai hak-hak masing-masing yang tidak bisa dicampuri oleh orang lain.
    Rasa persatuan dan kesatuan kita kembangkan lagi, cinta tanah air tidak cinta negeri orang lain kita tumbuh dan kembangkan lagi, kita angkat dan tumbuhkan lagi adat dan kebudayaan yang sempat menghilang bernilai adiluhung. Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa yang menghiasi dinding-dinding setiap rumah kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Niscaya nusantara akan jaya kembali? Cinta tanah air adalah jiwa peberani, cinta negeri orang lain adalah pegecuali!!! Jaya nusantaraku, Jaya Ibu pertiwiku.(Kiriman dari Blitar, Han Two)

    PERTAMA SEJAK 666 TAHUN

    Berita dari Puro Mangkunegaran Solo oleh Kanjeng Pangeran Wa Arya Sontodipura kawedalan dening “Mbangun Tuwuh” .

    Pada tahun 1343 Masehi, Arya Damar bersama Rakyan Mahapatih Hamengkubumi Gadjah Mada dan para Arya dari Majapahit membangun Pelinggih BRAHMARAJA/HYANG WISESA berupa Meru Tumpang sebelas dan Meru Tumpang tiga untuk pelinggih Permaisurinya RATU MAS/DEWI YULAN dimana Pelinggih ini untuk pemujaan Arya Raja Bali, agar tidak pulang ke Trowulan Majapahit. Didepan Pelinggih yang terletak di Pura Besakih ini Arya Damar Melantik Arya Kenceng adiknya sebagai Raja Bali atas perintah Ratu TRIBUANA TUNGGADEWI (Ratu Majapahit ke tiga) yang juga istri Arya Cakra/Sri Kertha Wardana kakak Arya Damar dan Arya Kenceng.

    Pada tanggal 1 Januari 2009 atas prakarsa Dr.Wedakarna keturunan Arya Kenceng diadakan doa bersama di Pura Besakih dengan menyertakan Pratima Ganesha yang habis meruwat Jagadraya/dunia di Pura Jagadnatha. Brahmarja selaku pemilik pratima mengikutkan pratima RATU MAS agar bisa melinggih dipelinggihnya yang dibuat 666 tahun yang lalu itu. Hyang Bhatara Agung Surya Wilatikta yang kebetulan turunan kesebelas Brahmaraja akhirnya berhasil membawa dan melinggihkan Pratima RATU MAS biarpun hanya semalam . Jadi Pratima Ratu Mas yang dibawa khusus dari Majapahit Trowulan ini baru pertama kalinya Melinggih Ratu Mas Pura Besakih sejak dibuat 666 tahun yang lalu. Sejarah terulang dimana Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI di depan Pretima Ratu Mas Melantik DR. Wedakarna sebagai Raja Negara Bali seperti 666 tahun silam Arya damar melantik Arya Kenceng Leluhur Wedakarna.

    Kejadian ini sebetulnya tanpa disengaja Brahmaraja XI (Hyang Suryno ) ketika mendapat surat permohonan agar Ganesha dibawa ke Besakih mendapat pawisik agar pratima RATU MAS diikutkan karena di Besakih Beliau punya pelinggih. Akhirnya pratima Ratu Mas diikutkan. Dimana Gilimanuk disabut semua umat beragama diiring dan mampir dipura segara, Pura Majapahit Negara Bali, Pura Rambut Siwi, Pura Ibu Majapahit JIMBARAN, Pura Jagatnatha dan akhirnya ke Besakih 1 Januri 2009 yang mana setelah dihitung tepat 666 tahun usia Pelinggih Ratu Mas di Besakih.

    Juga karena Dewi Yulan berasal dari Cina dan beragama Budha maka diiringi dua Barongsai Cina Merah dan Putih. Barongsai ini pun yang pertama masuk Besakih dimana penduduk Besakih masa kini baru pertama kali melihat, dan anehnya depan Pelinggih Brahmaraja ada Patung Barongsainya dua menjaga Pintu Ukiran Meru.

    Pada awalnya Barongsai sempat dipermasalahkan kedatangannya di Pura Hindu, ternyata Besakih adalah Pura Majapahit yang dibuat 1343dan Agama Hindu baru di sah kan 1961. Juga Patung Barongsai sudah ada di dalam Pura Besakih sejak 1343, 666 tahun yang lalu, ini lah akibat Orde Baru dimana Kesenian Barongsai dilarang hingga pemuda masa kini tidak tahu bahwa Leluhur Putri dari Cina dan selalu dikawal Barongsai, untung di Bali uang Cina / Gobok Kepeng masih digunakan Upacara jadi mudah untuk menjelasankan bahwa Cina masih saudara dimana Fosil Manusia Purba Solo / Trinil sama Cina. Dalam sejarah kita dari Yunan Cina atau Kita Asia adalah Bangsa Indo-Cina.

    Surakarta, 14 April 2009

    Arya Sontodipura

    Pemred B. T.

    HIKMAH PENUTUPAN TROWULAN

    Penutupan Pura Majapahit Trowulan tidak menyurutkan Hyang Bathara Agung Sri Wilatikta Brahmaraja XI pimpinan Puri Surya Majapahit untuk terus berkiprah. Kini beliau bebas turun ke jalan memenuhi undangan dari Keluarga Besar Majapahit Nusantara untuk kirab dimana-mana untuk menyuarakan pelestarian budaya Pemersatu Bangsa.

    Makna dari semua yang terjadi atas penutupan di Pura Majapahit Trowulan ternyata membawa Hyang Bathara bebas untuk kemana–mana dan berkunjung atas permintaan atau undangan para fans / pengagum kerabat Majapahit beserta benda–benda peninggalannya. “Saya ambil hikmah positifnya saja karena masyarakat masih banyak yang menghendakinya”. kata Hyang Brahmaraja.

    Jutaan benda peninggalan Majapahit adalah aset seluruh Bangsa dan bukan milik Agama tertentu “ ujar Hyang Suryo yang ber-Abiseka Sri Wilatikta Brahmaraja XI (Raja Majapahit 9 dari generasi ke-11). Sebagaimana diketahui Pura Majapahit di Trowulan yang dijuluki Pura Pancasila sama sekali tidak ada kaitanya dengan Agama tertentu tetapi sarana/wadah daripada pelestarian budaya. Maka tidaklah benar jika kegiatan di Pura Majapahit di hubung – hubungkan dengan kegiatan untuk mempengaruhi para pengunjung untuk memeluk Agama tertentu. “Saya menolak jika dikatakan ingin meng-agamakan orang. Saya sendiri bukan hindu, bukan Islam dan bukan Kristen, bukan pemeluk Agama apapun. Saya ini penganut Siwa Buda”. tuturnya. Karena bukan merupakan kegiatan Agama maka tema Budaya pemersatu bangsa menurut Hyang Brahmaraja sangat tepat dalam pameran budaya yang di gelar di Lake View Hotel yang dipromotori Bapak Ketut Putra Nata S.Par dan masyarakat yang mengatas namakan Bali Aga. Kerinduan untuk berjumpa dengan sanak keluarga para kerabat diseluruh Indonesia yang sejak dahulu dipendam baru dapat diwujudkan dengan adanya penutupan Pura Majapahit Trowulan.
    Kini Brahmaraja bebas turun kejalan-jalan untuk mengadakan Kirab dan menyatu dengan rakyatnya, Beliau selalu menyelipkan pesan-pesan luhur terutama agar semua elmen bangsa kembali mengingat para leluhurnya demi keutuhan bangsa, persatuan dan kesatuan sebagaimana yang pernah diraih kerajaan Majapahit ini merupakan suatu contoh daripada penguasa yang sangat memperhatikan rakyatnya dan budayanya, ini terbukti dengan diterimanya beliau di semua lapisan masyarakat yang bersimpati atas kepemimpinan beliau dan kasih sayangnya sampai-sampai ada yang menginginkan untuk menjadi Presiden RI tapi Brahmaraja adalah simbol Nusantara simbol Raja, arab saja ada rajanya , Tapi SIAPA yang berani mengaku Raja Majapahit ??. karena masyarakat sudah muak dengan kondisi yang ada seperti sekarang. “Saya adalah terkecil dari yang kecil dan Saya adalah yang terbesar dari yang besar” .Sabda sang Pandito Ratu.
    Bali sebagaimana penilaian sejumlah Sepiritualis merupakan perwujudan dari keutuhan adat dan budaya Majapahit. Hanya Balilah yang hingga kini tetap berpegang pada adat dan budaya warisan Majapahit sehingga kehidupan masyarakatnya selalu tentram dan damai. Kehidupan masyarakat Bali yang kukuh memegang dan menjalankan adat tradisi dan budaya leluhur maka segala bencana alam, konflik, penyakit yang menyerang tanaman tidak pernah terjadi tidak seperti di pulau Jawa.
    Seperti bunyi lontar bali “Sira Mpu Kuturan, Ingaranan Mpu Rajakretha Mahyuntha Anggawe
    Parhyangan Kabeh Sane Kagawa Wit Majapahit Kaunggahan Ring Bali Kabeh”
    kini dengan adanya penutupan dari pada Pura Majapahit di Trowulan terbukti seperti bunyi Lontar tersebut di pindah ke Bali.
    Banyak sekali hikmah, yang dihasilkan penyerbuan oleh Imam Karyono takmir Masjid Campa bersama dalangnya yang buta hukum dan oleh surat keputusan bersama menteri yang menutup Pura KAWITAN Majapahit Nusantara salah satunya bencana alam yang terjadi sekarang sesuai dengan ramalan. Dan warung sekitar Puri banyak yang tutup. Hikmahnya lagi Berdiri Pura Ibu Majapahit Jimbaran yang megah, unik, sakral dan tertinggi di Indonesia. Terima kasih Karyono dkk, Nusantara dan Pancasila ada di bawah telapakmu yakni sariat ARAB.
    Toleransi yang diberikan oleh umat yang ada di Bali, karena sangat menghargai leluhurnya dimana dengan adanya adat sesajen yang diberikan untuk ibu pertiwi kita mendapatkan berkah dari tanah air, tidak seperti di Arab yang menghasilkan padang pasir. Dari kasus Trowulan, Umat Hindu di Bali (dicanangkan th 1961) sesuai pernyataan Ida Peranda Manuaba, inipun bentukan pemerintah arab untuk memecah belah / mendiskriminatif umat di Bali supaya mengecil).Umat hindu Bali harus dewasa dan berani bersikap, jika umat hindu terus polos dan “manut-manut wae”hanya tinggal menunggu waktu akan mengecil dan pada akhirnya habis.

    NB; Bali adalah Majapahit, semua yang diterapkan di Bali berasal dari Majapahit bukan dari India Biarlah Bali di kasih lebel Hindu Toh Prakteknya adalah Siwa Buda yaitu ke leluhur Kawitannya biarpun di tuntun ke India ataupun Ke arab, keturunan Majapahit ini tetap memuja Leluhurnya atau orang tuanya di merajan masing-masing.
    Pertanyaanya , “ Beranikah atau maukah menteri Agama dan menteri Dalam negeri membuat SK pembekuannya andai umat hindu menyampaikan keluhan-keluhan tempat ibadat non hindu atau mushala-mushala atau masjid yang banyak bertebaran didesa-desa ?”.

    RITUAL DAN KIRAB BUDAYA

    Jangan tinggalkan Leluhur Ritual dan Kirab Budaya di Klenteng Eng An Kiong, Malang Di Persatukan Dewa-Dewi beserta Leluhur.

    Klenteng En Ang Kiong genap berusia 182 tahun. Selain ritual rutin, sudah banyak kegiatan spiritual yang di gelar di klenteng ini. Tampaknya, Dewa dan Dewi mempersatukan umat Tri Dharma dari beberapa penjuru tanah air.
    KLENTENG Eng An Kiong kota Malang sudah sedemikian akrab di telinga mayarakat Malang. Tapi siapa yang tahu pejuang Tiongkok yang mendirikan bengunan tempat ibadah Tri Dharma (TITD) yang satu ini?. “Tidak ada yang tahu, berbeda dengan Klenteng yang ada di Semarang misalnya, catatan sejarahnya lengkap . Tapi Klenteng kami ini, kami tak tahu,” Terang Salam Santosa Humas Klenteng Eng An Kiong.

    Menurut Salam, sebagaimana lazimnya dulu, para pelarian Tiongkok datang ke Indonesia dengan membawa para Dewa-Dewi pelindungnya. “demikian juga mereka yang datang ke Malang. Membawa Dewa yang kini menjadi pelindung Klenteng kami yakni Dewa Hok Tik Ching Sin sebagai Dewa Bumi dan kemakmuran.” Terang Salam Santoso yang di jumpai disela-sela persiapan kirab akrab untuk memperingati ulang tahun Klenteng Eng An Kiong yang ke-182.

    Ditambahkannya, dulu Klenteng Eng An Kiong tidak didirikan di jalan Martadinata seperti sekarang berada “Tapi ada didaerah Wiramarga dekat Pecinan Kota Malang. Baru pada tahun 1825 pindah kesini. Tapi ya begitulah siapa yang membangun, siapa yang merawat, catatanya tak jelas. Yang kita miliki sekarang hanya Prasasti yang berisikan nama-nama dimasa kini.” Tambah Salam Santoso.

    Dalam kirab Akbar ini, peserta dari Puri Surya Majapahit, Jimbaran, Bali juga turut hadir. Dalam kesempatan itu juga, Sri Wilatikta Brahmaraja XI, ketua Penglingsir Puri Surya Majapahit juga mengikuti kirab dari start sampai finish. Pria yang cukup dipanggil Hyang Suryo ini menandaskan, ke ikut-sertaan Puri Surya Majapahit dalam acara ini adalah untuk mengingatkan agar manusia tidak melupakan Leluhurnya, termasuk mereka keturunan Majapahit.

    “Keturunan Majapahit Leluhurnya juga dari Cina (Budha ) yang menikah dengan orang Jawa (Siwa). Jadi saya adalah Siwa-Budha. Sri Brahmaraja I atau Hyang Wisesa menikah dengan Li Yu Lan yang kemudian dikenal dengan Indreswari (Dara Jingga). Di kemudian hari Indreswari mendapatkan gelar Ratu Mas Megelung. Berturut-turut mereka mempunyai keturunan yang membesarkan Majapahit.

    Mengapa sekarang Sri Wilatikta Brahmaraja XI lebih banyak tinggal di Bali ?.Di karenakan di Trowulan sudah di tutup berdasarkan keputusan Menteri Agama dan Mendagri No. 01/BER/MDN/69 dan Perda Kab. Mojokerto No. 16 Th.83. tanpa alasan yang jelas.

    Sebagaimana umat Tri Dharma, para keturunan Majapahit ini jangan melupakan “Leluhurnya”. “Siwa- Budha di Majapahit bisa menyatukan Nusantara yang berperan tentu para leluhur kita jadi jangan lupa bahwa Leluhur kita satu yakni Majapahit”. Ujar Sri Wilatikta Brahmaraja XI seraya mengucapkan keprihatinannya.

    Ditambahkan, “bukan hanya Hindu, Budha yang boleh sembahyang di Pura Majapahit, tetapi semua dari pemeluk agama manapun karena kalau dilihat Majapahit bukan Agama tetapi pelestarian Budaya, jadi jangan di salah artikan mengenai pemahaman pengertiannya”.tambah Hyang Suryo Wilatikta Brahmaraja.

    Dalam kirab kali ini, Puri Surya Majapahit membawa Kiem Sien Dua yaitu Dewi Kwan Im tangan seribu dan Siwa Parwati tangan seribu. Anggota Puri Surya Majapahit ini tidak saja dari Bali tetapi ada yang jauh-jauh datang dari Jakarta. (Di tambahkan dan di kutip dari Posmo, 1 Agustus 2007. Edisi 430)

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.