PURA IBU MAJAPAHIT PUSAT


PENDAHULUAN
:

Pembangunan Pura Ibu Madjapahit yang berada di Banjar Buana Gubug,Puri Gading Jimbaran Kecamatan Kuta Selatan,di dasari dengan penutupan Pura Madjapahit Pusat Trowulan oleh Muspika setempat yang katanya berdasarkan SKB menteri Agama dan Mendagri No. 1/BER/MDN//MAG/69 dan Perda No.16 TH 1983 Kabupaten Mojokerto.Isi dari SKB dan Penutupan kami tidak diberitahu dan tidak sesuai dengan persepsi yang nyata,sehingga berakibat para leluhur BatharaBathari Madjapahit di undang ke– Bali untuk nyejer dan terus dapat di upacarai hingga berakhir di Garuda Wisnu Kencana (GWK) masuk desa Ungasan Kecamatan Kuta selatan Kabupaten Badung Denpasar. Para leluhur Madjapahit pada awalnya dilinggihkan / di Stanakan di Gedong Pratima yang berupa Ruko di komplek GWK hingga punya Candi / Pelinggih untuk Hyang Bathara Airlangga titisan Bathara Wisnu naik Garuda kawitan Leluhur Jawa Bali serta Nusantara yang Ber-AbhisekaRAKA HANA SRI LOKESVARA DHARMAWANGSA AIRLANGGA NANTA WIKRAMA TUNGGA DEWAhingga terjadi pergantian investor,maka Ruko di minta investor baru,kemudian Brahmaraja XI selaku Penglingsir Puri Surya Madjaphit mencari tempat di Puri Gading yang juga berupa Ruko untuk men-Stanakan leluhur Madjapahit agar kalau Odalan serta menghaturkan bakti, Pratima leluhur supaya tidak terlalu jauh ngiringnya atau Mendak. Ternyata ketika para Leluhur Madjapahit berada di Ruko Puri Gading,banyak orang maturan tanah untuk Pura di belakang Ruko. Karena yang sudah melinggih di GWK adalah Bathara Wisnu dan Budha,maka di Puri Gading di linggihkanIBU SIWA PARWATI TANGAN SERIBU/ DEWI KWAN IM TANGAN SERIBU ”.

PURA MADJAPHIT PUSAT TROWULAN YANG DITUTUP TANPA ALASAN YANG JELAS. PURA INI BERADA DI IBUKOTA KERAJAAN MADJAPAHIT YANG DIHANCURKAN 500 TAHUN YANG LALU BERADA DI KABUPATEN MOJOKERTO JAWA TIMUR (PURA INI JUGA MENINGGALKAN BANYAK KESAKRALAN SERTA KEGAIBAN, MAU DIBOM YANG BAWA TEWAS DISAMBAR PETIR) MUSPIKA YANG MENUTUP HINGGA KINI KEBERADAANNYA TIDAK DIKETAHUI NASIBNYA,IRONIS DAN DIPURI SURYA MADJAPAHIT TROWULAN MEMBUKAPUSAT INFORMASITENTANG PURANA DAN KASUNYATAN


MAKSUD DAN TUJUAN:

Melinggihkan Ibu Nusantara agar Umat Madjapahit,warga Siwa Budha keturunan Madjapahit yang sekarang tersebar diseluruh Nusantara yang terdiri dari berbagai Ras, Suku,Agama,adat dan Budaya untuk bisa membuat Upacara ritual sebagaimana mestinya,karena di Trowulan sudah tidak boleh mengadakan ritual dan kegiatan dalam bentuk apapun setelah ditutup. Dengan bisanya Ibu Nusantara di upacarai maka beliau tentunya bisa memberikan perlindungan kepada para keturunannya,Kerahayuan dan Kerahajengan serta membebaskan dari mara bahaya yang banyak menimpa bangsa Indonesia dan sangat sesuai dengan kutipan slokaKitab Negara Kerthagamakarangan Mpu Prapanca pada masa Sri Paduka Hayam Wuruk (………Patih Hamangkubumi Gadjah Mada berkata,”Sri Paduka akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan. Atas perintah sang rani Sri Tri Buwana Wijaya Tungga Dewi supaya mengadakan upacara Sradha untuk Sri Padukapatni istri dari Raden Wijaya atau Sri Wilatikta Brahmaraja I,Raja Madjapahit pertama di Istana pada bulan Badrapada tahun isaka 1284 ”………Tanggal dua belas nyawa di panggil dari surga dengan do`a dan upacara yang sempurna………Pesta Sradha yang diselenggarakan serba meriah dan khidmat. Pasti membuat gembira jiwa Sri Padukapatni yang sudah mangkat. Semoga Beliau melimpahkan berkat kepada Sri Paduka Prabu sehingga jaya terhadap musuh selama ada bulan dan surya. Pendeta Buda datang menhormat memuja dengan sloka untuk Arwah Prajnyaparamita yang sudah berpulang ke Budaloka………Prajnya Paramita Puri nama candi pasareyan yang di bangun. Arca Sri Padukapatni diberkahi oleh Sang Pendeta Jnyanawidhi.Telah lanjut usia ,faham akan tantra, menghimpun ilmu agama,laksana titisan Mpu Barada,menggembirakan hati Sri Paduka. Di Bayalangu akan di bangun pula candi pasareyan Sri Padukapatni. Pendeta Jnyawidhi lagi yang ditugaskan memberkahi tanahnya. Jika Candi sudah sempurna dibangun,Candi Pasareyan Sri Padukapatni tersohor sebagai tempat keramat. Tiap bulan Badrapada disekar oleh para Mahamantri Agung dan Pendeta Kasayiwan dan Pendeta Kasogatan (Siwa Buda). Di tiap daerah rakyat serentak membuat peringatan dan memuja. Itulah suarganya,berkat berputra,bercucu Narendra utama………). Dan secara kebetulan atau sudah di progam dengan leluhur sejarah terulang kembali,Negara Kerthagama juga terulang dengan waktu dan tempat yang berbeda diabad 21, yakni Pura IBU Madjapahit. Dan yang melinggihkan atau mengadakan upacara Sradha adalah keturunan Narendra Utama yakni Bathara Agung Kawitan Hyang Surya Wilatikta yang berAbhiseka SRI WILATIKTA BRAHMARAJA XI (Raja Madjapahit ke-9 generasi yang ke-11).

WUJUD FISIK BANGUNAN:

Bangunan berupa Candi Madjapahit (IBU) Tumpang sembilan, Meru / Pagoda Tumpang Sebelas dan Gedong / Klenteng tempat Pratima / Kimsin, semua terbuat dari bata merah pilihan dan khusus sesuai ciri khas bangunan Candi-candi Madjapahit. Pada tanggal 17 Januari 2007 dilakukan peletakan batu pertama Candi (IBU) Madjapahit yaitu hari Siwaratri atau Budha Cemeng Merakih,selanjutnya tanggal 23 Mei 2007 dilakukan Acara Mamungkah, Ngenteg Linggih dan Odalan dipuput oleh Tri Sadaka yakni Pendeta Siwa / Pedanda Buda / Sri Bagawan yang dihadiri Umat seNusantara, disusul pada tanggal 16 Juli 2008 peresmian Meru Tumpang sebelas dan Gedong Pratima / Klenteng dengan Upacara terlengkap untuk pertama kalinya sejak 500 tahun keruntuhan Madjapahit. Di hadiri umat seluruh Dunia dari berbagai bangsa apapun Agamanya, adat dan sukunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: