PURA/KERATON MAJAPAHIT PUSAT GWK

  • Pura ini berdiri awal 2004 tepatnya tanggal 26 Januari atas undangan Direktur Utama GWK sebagai investor yang pertama beserta Forum Study Majapahit karena memandang sangat penting untuk perkembangan GWK itu sendiri. 

Selain memohon secara niskala/gaib juga ingin menarik wisatawan untuk datang ke Bali setelah terpuruk oleh keadaan Bom Bali yang menghancurkan roda perekonomian Bali. Kronologisnya pada November 2003 Pratima Prabu Airlangga yaitu Wisnu naik Garuda pada saat itu di Bali mengadakan Upacara Prayascita Gumi, kebetulan ada seorang parlente dengan berpakaian adat Majapahit Bali disamping itu juga ada mangku Pastika (menjabat Kapolda Bali dan Gubernur Bali selanjutnya. 


Orang yang dibilang parlente ini berwajah kuning, dengan badan agak kecil, Orang tersebut bilang,”Nanti kalau selesai acara ini,pindah saja ke GWK saya sediakan tempat”,Katanya. Orang tersebut memberikan kartu nama sebagai Direktur Utama GWK, kemudian setelah lama berselang kebetulan Brahmaraja XI sebagai Penglingsir / Raja Majapahit berada di Puri Anom Tabanan pas hari raya Imlek waktu bersama GM Hotel Santika bernama Suryawan sekitar jam 12 malam. 


Paginya jam 8.00 ada yang terburu-buru menjemputnya, orang itu mengatakan “Mari Hyang kita berangkat ke GWK!”. Dengan terburu-buru mandi dan ikut dengan orang yang menjemputnya. Sesampainya di sana, baru tahu ada Patung Prabu Airlangga yang lagi dalam tahap pembangunan. Sama persis dengan yang asli seperti Pratimanya yang saat itu masih berada di Jawa. Setelah di Undang untuk kepentingan Bali bukan orang yang dilihat oleh Brahmaraja kenapa karena Bali sampai detik ini melaksanakan Ajaran Majapahit. Orangnya biarlah sudah di hindukan tapi prakteknya adat budaya Majapahit. 

” Kapan bisa masuk GWK”. tanya Brahmaraja. Selanjutnya Putu Antara berunding dengan stafnya karena tempatnya belum dihias, belum dibersihkan, belum diplaspas. Karena alasan itulah, kemudian di beritahukan 10 hari lagi. Nah, setelah itu Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI kembali ke Jawa, ternyata setelah di Jawa, Pura Majapahit Keprabon tempat ber-Stananya leluhur berupa Pratima Airlangga Naik Garuda juga sudah mendapatkan undangan resmi beserta paket dan faksnya. 

Kemudian Pura Majapahit Jenggala juga mendapatkan Undangan secara resmi untuk memohon ijin mengiring Pratima ke GWK Bali untuk kerahayuan jagad Bali. Hyang Brahmaraja mengatakan Pura Majapahit Keprabon tempatnya di utara tempatnya Wisnu sedangkan di Pura Majapahit Jenggala tempatnya di selatan melinggihnya Hyang Brahma sesuai lontar Majapahit. 

Dengan demikian tidak rapat lagi bahwa beliau akan melinggih di Selatan demi Bali semoga beliau berkenan. Tepat hari kesepuluh Hyang Brahmaraja pun datang ke Bali, dengan menggunakan dua jalur jalan darat dan udara (persis seperti perjalanan Hyang Nirarta atau Dwijendra bergelar Ida Peranda Sakti Wau Rauh. Sesampainya di GWK sudah disiapkan ruangan dengan hiasan lengkap.Di mana Sri Wilatikta Brahmaraja XI berdiam disitulah Puri Pura dan Purana itu ada, selanjutnya dilaksanakanlah upacara Ngenteg linggih, yang mana dipuput Ida Pedanda Bang Manuaba. 

  • Upacara yang besar ini sangatlah lengkap dihadiri oleh seluruh Keluarga besar Nusantara, simpatisan dan para pengayah bahkan dari luar negeri termasuk Raja Tibetpun ikut hadir. Maka Sahlah Ratu Bathara Prabu AIrlangga melinggih dilengkapi dokumen atau prasasti serta lontar dan bhisama. 

Karena Pura itu harus ada pelinggihnya maka biku sin dari pemuda Buda Dunia sekaligus direktur MGK memberikan tempat yang sekarang menjadi Pura Majapahit kebetulan bersebelahan dengan Rurung Agung (seperti sudah di kehendaki oleh Bathara). Tumpak Wayang dan Prangbakat beliau dilinggihkan disaksikan Presiden Hindu Dunia dan Maha Rsi dari India bahkan ikut menegen (melinggihkan red.)dan mensucikan serta Puri-puri seluruh Bali dan Jawa . Demi Majapahit.


Di mana Sri wilatikta Brahmaraja XI berada disitu jadi Pura atau Keraton karena Keratonnya ditutup.

    2 Responses to PURA/KERATON MAJAPAHIT PUSAT GWK

    1. NaYoKu mengatakan:

      "Kami sendiri dari Admin terdirii berbagai SARA yang tidak anti dengan budaya leluhur"maaf bertanya, tapi apa artinya SARA? Saya setuju sekali bahwa agama dan golongan lepas dari menghormati, mengingat, mengenang dan mendoakan leluhur.Salam damai,Nan Kasanpawiro, Amsterdam

    2. Kenyataan Kini mengatakan:

      S=SukuA=AgamaR=RasA=Antar GolonganDalam satu wadah NKRI…dinaikan lagi Dunia…Bumi…Alam semestaTrima kasih sampun mampir semuanya !!!.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: