PURA MAJAPAHIT GWK TEMPAT MELINGGIH BATARA WISNU

Yang melinggih di Pura Majapahit GWK adalah Raja Jawa Bali Prabu Airlangga Udayanaputra Nantawikrama Tunggadewa, Bapak Beliau Prabu Udayana, Ibu Beliau Putri Mahendradata dari Kerajaan Kahuripan/Jenggala belakangan dipecah dua oleh Mpu Bharadah menjadi Jenggala dan Kadiri. Kadiri lebih dikenal dengan Rajanya Prabu Jayabaya, sedang Jenggala dipegang Prabu Jayasabha I saudara Prabu Jyabaya saendiri, Zaman Majapahit Jenggala dipegang Prabu Jayasaba III yang juga bernama Wisnuwardhana biarpun Jenggala dianggap kecil tapa Raja tetap dianggap titisan Wisnu. Ketika diangkat menjadi Panglima Perang Nusantara beliau mendapat gelar Bhatara Indra, Ketka Pansiun menjadi Raja Jenggala, Kediri maupun Daha [Trilokapura]

Beliau bergelar Sri Wilatikta Brahmaraja I hingga masa berakhirnya Majapahit, Prabu Brawijaya masuk islam, Jenggala tetap dipegang Sri Wilatikta Brahmaraja V / Jayasabha X / Wisnu Wardahan VIII, Karena dahulu komunikasi kurang dan runtuhnya Trowulan yaitu Brawijaya oleh Kerajaan islam Demak, Jenggala/Kadiri masih eksis bertahan hingga 1522 Barulah Sri Wilatikta Brahmaraja V meninggalkan Kadiri karen diserang Trenggono putra Patah yang takut Kadiri kuat bekerjasama dengan Tentara Kristen Portugis. Brahmaraja V yang kulitnya kuning menyamar jadi Cina, sedang Para Resi yang agak hitam disuruh ke Bali untuk memperkuat Niskala Bali termasuk Resi Dwijendra. Waktu itu Bali masih memakai konsep Mpu Kuturan Bagawanta Budha. Jadi disini jelas Trah Jayasabha/Brahmaraja eksis didukung Dinasti Cing dari Cina tetap Budha dengan membangun Klenteng karena kalau bikin Candi dicurigai islam, ketika Belanda masuk Trah Brahmaraja dianggap etnis Cina Majapahit muja Pek kong, aman saja bahkan Brahmaraja VI Jingkang mendapat hak istimewa, Apakah Jingkang ini yang di Bali dianggap dari Cina ini membutuhkan penyelidikan silsilsh Bali, Sebab Jingkang Raja JenggalaBayangan punya Jung / Kapal layar besar model Cina, bahkan di Ujung galuh Zaman Belanda menjadi kepala Pelabuhan / Syahbandar. Jingkang bermarga Li / Raja menurut orang Cina, supaya tidak dicurigai tentara islam ngomong dibikin Pelat seolah logat Cina, Diteruskan Jingwan tetap syahbandar punya banyak Jung untuk berlayar dimana salah satu Jung nya hancur di selat Malaka di mana didalam Jung ikut Suhu Tan Tik Siu yang juga dimakamkan di Tanjung Pinang.

Keturunannya Tan Koen Swie tetap melestarikan adat Jawa yang menerbitkan Darmogandul dilindungi UU Belanda. Tan Tik Siu Zen [dewa] cukup dikenal di Tulung Agung / Jenggala dianggap Dewa. Mbah Gede Ngadri putra Jingwan 12 bersaudara. Mbah Gede Ngadri adalah Suami Mbah Putri Gading Ludaya Putri sakti Singa Ludaya dan bisa berubah jadi Macan Gadungan Tongkat nya jadi ekor nya. Tongkat, bedug dan Pusaka diwariskan cucu tunggal tercintanya yaitu Hyang Suryo.Juga Mbah Gede Ngadri mewariskan sejumlah Pusaka, cap Kerajaan dan barang rahasia yang tidak bisa disebutkan satu persatu, Termasuk Keris Nagaraja [difoto keluar Naganya diketahui Semar Suwito Wartawan Liberty] Foto bisa dilihat di Puri Gading. Menyusul kepala Hyang Suryo/Brahmaraja XI kepalanya pas ketika Mahkota ajaib Majapahit dikembalikan. Inilah cerita keluarga, jaman Orde Baru Hyang Suryo aman saja karena penyembah Leluhur aktip, 1983 sempat meresmikan Makam Mbah Bodo Pahlawan Budaya di Smberpucung Malang. dan Hyang Suryo berkiprah di Aliran Kepercayaan dibawah Dirjen Kebudayaan, Bahkan Panitia Suro’an di Trowulan sejak 1980 an bahkan cukup dikenal di Trowulan 1960 an, Tahun 1969 melepaskan Jaini Putra Pak Saguh Pendopo Agung yang di Belok/ dipasung kakinya, dan masyarakat Trowulan cukup kenal Marim penduduk Putri Cempo kenal Hyang Suryo masih gadis, anak gadisnya teman baik Hyang Suryo sampai sekarang Ria namanya sudah punya anak saksi hidup di Trowulan masih, Panitia Hari besar Suro ada SK nya sampai hari ini belum dipecat/dicabut.

Hingga Pura Majapahit Trowulan di tutup 2001, 2002 masih kirap Suro, juga 2008 masih ikut kirap Sapdopalon di Trowulan. Bahkan upacara dirumah tidak boleh malah kirap Pratima di Tulung Agung, Malang, Kertosono, Gudo Jombang 2009. Bali kirapnya tak terhitung, Siwanawaratri, Ganesa caturty dll. Pura Majapahit GWK awalnya di GWK kisruh, bahkan Ruko Pura Majapahit ditutup Bambu tidak bisa masuk jadi masuk liwat Rurung Agung. Tapi setelah tau Pura Majapahit bambu dibuka kembali, karena Orang Bali pantang menutup jalan Ida Bhatara, Belakangan Klian baru Demo minta jalan Rurung Agung ke GWK dan dikabul kan e e e, Malah tidak mendukung Pura Majapahit pura-pura tidak tahu apalagi ketua PHDI kuta selatan Amplik ikut juga ambil bicara, menuduh tidak nyukat genah, caru yang mana membuat masyarakat yang ngayah panas, akhir nya Rurung Agung di tutup batu oleh penduduk setempat dan mereka diam sekarang termasuk GWK, coba baik-baik Rurung Agung sekalian jalan ke Pura Dalem Majapahit GWK kan orang maklum, lha dapat jalan Rurung Agung Pura dilecehkan padahal dulu masuk ke komplek Roko ditutup berkat Pura Majapahit dibuka, ya namanya orng Leluhur dikenakan pepatah “habis manis sepah dibuang” apalagi Pura Majapahit punya Pratima Durga Mahisa Nandini ketika dipendak dilinggihkan/dipinjam Universitas Mahendradata Bali diguyur hujan sampai banjir dimuat koran “Bali disapuh Durga” juga Bali aliran Siwanya kuat tapi perayaan Durganawaratri hanya segelintir orang Bali yang datang hingga sebuah majalah mengulas Durga sampai puluhan halaman. Jadi inilah penjelasan Nyata, bukan bukan pendukung Pura Majapahit GWK serakah ingin ngemis tanah di GWK, dulu diundang bahkan Direktur GWK nyumbang Odalan [Dokumen foto,VCD lengkap] Upacaranya besar-besaran sumbangan Odalan, caru, dll dari Puri/Griye dan umat semua itu untuk tanah GWK dan Bali yang di Sungsung ya Leluhur Bali Prabu Airlangga [dijawa dipakai Universitas Airlangga] Bapaknya Prabu Udayana [dipakai Bali Universitas Udayana] Ibunya Putri Jawa / Kerajaan Kadiri Mahendradata [dipakai Universitas Mahendradata] juga dimanivestasikan Durga Mahsa Andini di Blahbatuh. Hyang Suryo Pribadi bahkan ingin menarik Pratima pulang ke Jawa padahal sudah ada Pelinggih sampai cari ruko di Puri Gading agar kalau Odalan di GWK Pratima Prabu Airlangga dekat ngambilnya, bukan ke Buleleng/jawa. Nyatanya di Puri Gading Maju untuk Pelinggih Ibu dan sudah odalan 5X. Aneh tapi nyata, Menurut Bapak Badeng mantan Kelian Puri Gading sudah di program Leluhur, Pak MONGKEK salah membangun rumah, sampai ribut akhirnya tanah Pak Mongkek di bangunPendopo Majapahit hingga Pura Ibu kelihatan luas.

Dan tanah untuk Pelinggih Ibu benar-benar suci belum pernah dibangun rumah. Padahal dulu Ibu juga sudah ikut Ngenteg linggih di GWK Ungasan, Ibu pindah begitu saja ke Jimbaran dengan diiring Mahasiswa/siswi Mahendradata dan masyarakat Ungasan ,jimbaran pindah Ruko ke Ruko sangat menyedihkan tapi ini demi bisa di Odali, caru dan disegeh tiap hari karena Trowulan di tutup Camat yang lulusan Universitas Airlangga [keterangan bpk’ Djoko BUDPAR mojokerto mengaku teman sekelas sambil menangis di Pura Budaya Majapahit] aneh tak lama camat struk masuk rumahsakit dan 3 tahun baru tewas setelah menderita lama “Sudah saya peringatkan jangan ngutik Majapahit, Majapahit itu lungit, tapi tidak percaya” ujar Pak Djoko yang menawari Gedung Pendopo bekas Wedono di jalan raya desa Brangkal, untuk Pusat Informasi Majapahit didukung Bapak. Bramianto teman Bupati Mojokerto Achmadi tapi Hyang Suryo menolak karena camatnya sama yaitu Trowulan. nanti dikira ngece/menggoda Camat Trowulan yang nutup.

Demilianlah sekilas Sejarah Dewi Durga pernah Ngenteg Linggih, caru, odalan di GWK kini punya Pelinggih di Puri Gading, Kami penyungsung Pura Majapahit GWK mengucapkan terimakasih pada investor GWK baru yang meminta Ruko tempat Bhatari Durga Melinggih, dan Hyang Suryo pindah ke Puri Gading hingga terbentuk Candi Ibu termegah di Asia. Semoga GWK tetap jaya karena masih ada Prabu Airlangga yang melinggih dan diberi Odalan mudah2an Patung cepat selesai dan Pratima pulang kejawa, contoh Pratima Ganesa dulu satu komplek dengan Patung kini ,malah punya Candi pindah ke Rumah Hyang Suryo di Bantang Banua Sukasada rumah itu hadiah Gusti Latria adik Pahlawan Letkol Wisnu Dan Ganesa juga candinya tak jauh dari monumen Letko Wisnu satu komplek.[dipisahkan telabah/sungai] sangat memalukan dikira Prabu Airlangga Pengemis, padahal di GWK tak jauh ada Pelinggih Penari dulu di Ruko lalu dipindah ini aman saja, tapi malah Prabu Airlangga yang di Patungkan tanpa pernah maturan pada Prab untuk minta ijin, untung Direktur GWK lama Odalan, juga GM nya, yang baru malah mempertanyakan, contoh Gubernur lama punya program, masak Gubernur baru menghentikan?…IRONIS. {Komang Artanegara} 12-09-’09.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: