KADIRI MAJAPAHIT TERAKHIR DIRUWAT BRAHMARAJA XI

Sekitar Alun-Alun Doho tarpampang Sepanduk Besar ” SELAMAT DATANG HYANG BHATORO AGUNG SURYO WILATIKTO” dan para tamu dari Bali. Ada apa ini? Hyang Bhatoro Suryo adalah Turunan ke enam Sri Wilatikta Brahmaraja V Bhatara/Raja Kadiri Terakhir [1522] yang diserang Trenggono Raja Kerajaan Islam Demak Bintoro. Radio Budaya Sri Aji Wijaya FM gencar menyiarkan Ruwatan “BUDAYA PEMERSATU BANGSA” Yang disiarkan dari Kota Kediri Jawa Timur, Tempat bermukimnya Suhu/Mpu Tan Koen Swie Penerbit Darmogandul yang dilindungi UU Zaman Belanda dan dilarang dibaca diera Orde Baru [1966-2000]. Bahkan Hyang Bhatoro Agung Suryo Wilatikto didampingi DANDIM Kediri Bpk. Let Kol. Edi sempat mengadakan Dialog Interaktip “Budaya Pemersatu Bangsa” mengupas Kejayaan Majapahit Pemersatu, Ramalan Sabdopalon dan Pancasila. Ternyata Penjelasan Hyang Bhatoro Agung sangat diluar dugaan sementara orang selama ini tantang Cerita Majapahit yang selalu fiktip dan Dongeng. Ambil contoh: sebuah pertanyaan ” Hyang, apa dibalik kesuksesan Gajahmada, Kesaktian apa yang dimiliki Majapahit hingga bisa Menyatukan Nusantara?” dengan enteng dijawab ” Lho, Majapahit itu Punya Angkatan Laut Terkuat di Dunia saat itu, Jadi jelas dong bisa menyatukan dari Afrika sampai Amerika Latin” rupanya sipenanya kurang puas dengan jawaban ini beralih ke DANDIM Kediri ” Pak Dandim, bagaimana menurut Bapak?” dijawab “Betul, betul, betul kata Hyang tadi, Saya juga kan Belajar Sejarah, itu ada bukti kalau Angkatan Laut kita kuat, Laksamana NALA berhasil menaklukkan Madagaskar” Demikian cuplikan dialog yang agak menyimpang dari yang diharapkan masyrakat dimana selama ini diselimuti berita KLENIK. [bersambung] Suasana Hotel “BISMO” milik R. Soewito yang istrinya masih Cucu Pahlawan Kebudayaan Jawa [Diakui Pemeritah Kediri] nampak penuh Para Tokoh Kejawen, Orang pakai Blangkon, Udeng, Sarungan dll, sedang Ngayah/kerja bhakti membuat Panggung, menghias dll. Ada apa ini rupanya? mau masuk Hotel maupun di Jalan Raya Kota Kediri [Bekas Kerajaan Kadiri yang terkenal dengan Ramalan Rajanya Sri Aji Jayabaya] terpampang Sepanduk besar bertuliskan “SELAMAT DATANG HYANG BHATORO AGUNG SURYO WILATIKTO”. Peristiwa aneh terjadi dan hampir tiap saat Radio Budaya Sri Aji Wjaya FM Kediri menyiarkan Bahwa Kota Kediri akan di Ruwat Hang Bhatoro Agung Suryo Wilatikto, Dalang Ruwat Ki Gondo Trisno Suryeng Bhawono, Dalang Calonarang Ki S. Haryanto Kusumo dari Kota Reog Ponorogo, Dalang Campur Sari Ki Witak Tjondrodimuko, Ini Yang Pertama sejak 500 tahun Runtuhnya Kerajaan Siwa-Budha Majapahit Kadiri 1522 M. Ruwatan Akbar yang digelar ini sempat membuat sedikit panik karena Hyang Bhatoro Agung sedang berada di Bali. Akhirnya seminggu sebelum Ruwatan yang akan diadakan Kamis Pahing 27 Maret 2003 ini menjadi Semarak dengan munculnya Hyang Bhatoro Agung yang tinggal di Hotel “BISMO” depan Alun-Alun Doho tempat Patung Kolonel. Bismo Pahlawan Kemerdekaan, Hotel Bismo cukup terkenal karena milik Cucu Tan Koen Swi Pahlawan Kebudayaan. Akhirnya untuk membuat Yakin Masyarakat langsung Hyang Bhatoro Agung digelandang untuk siaran Interaktip didampingi DANDIM Kediri Bpk Letkol. Edi agar tidak bisa ucul. Sebab Acara ini serius dan sudah disiarkan Media Cetak dan Radio, kalau sampai batal sangat menjatuhkan Predikat kota Kediri. Ketika berada di Stasiun Radio Budaya Sri Aji Wijaya FM, antusias masyarakat yang ingin bertemu/tatap muka/salaman kepada Hyang Bhatoro Agung sangat besar,mereka menunggu sejak sore kedatangan Hyang Bhatoro Suryo yang di Hotel Bismo dipanggil ‘Sang Prabu” akhirnya tepat jam 21.00 Masyarakat gembira mendengar siaran ” Saudara pendengar telah hadir di studio dua…Hyang Batoro Agung Suryo Wilatikto Trah Raja Majapahit Kadiri…..didampingi Bapak Dandim Kediri….” demikianlah belum siaran telepon Studio sudah berdering memastikan kehadiran. Akhirnya acara dibuka Dilaog Budaya Pemersatu Bangsa. Dimana Dengan Ilmiah Hyang Bhatoro Agung menjawab pertanyaan, tanpa menyinggung Kesaktian, klenik dll. Pancasila juga dijelaskan digali Bung Karno dari Kitab Sutasoma bukan dari hasil bertapa, kitab ini masih lestari di Bali, juga dijelaskan Bali adalah Majapahit, bahkan ada yang tanya “maap Hyang katanya Bali Mempertahankan adat Majapahit, tapi itu lho Hyang… di Pantai kute itu lho Hyang.. Turis…Turis..” Langsung Hyang Bhatoro memotong, “Bener, bener,Turis pakai Bikini, lho kan Orang Bali tidak terpengaruh, biarpun diserbu Budaya barat, tidak terpengaruh, Budaya adat Bali tetap jalan , Odalan, Caru dll tetap dilaksanakan, tidak pernah berhenti, hingga Turis tetap datang dan terkagum-kagum” OOOOW guman penanya dan terdiam. Tentang Ramalan Sabdopalon juga dijelaskan Kalau seluruh Dunia punya kitab Ramalan contoh kitab Wahyu meramalkan Kiamat, semua punya Ramalan, Karena Dunia Belum Bulat, yang nemukan Bulat Kolumbus, Jadi Ramalan Wahyu tidak cocok di Jawa yang cocok Ramalan Jawa ya ramalan Raja Jawa yaitu Prabu Joyoboyo Raja Kadiri. Tidak ada di Jawa Api dari Langit , di Irak Bagdad pusat budaya islam ada api dari langit yaitu Bom yang dijatuhkan Pesawat Siluman. Amerika dialog makin marak hingga tengah malam, Majapahit, Pancasila, Ramalan Sabdopalon, Jayabaya, sampai adat Bali dikupas tuntas secara ilmiah Oleh Hyang Batoro bahkan di iya kan bapak DANDIM Kediri Let Kol, Edi. Masyarakat rupanya belum puas dialog dilanjutkan esok Sore hari agar lebih lama dan leluasa bertanya.Lanjutan dibahas dari Seni Budaya Sendiri yang terpasung, adat Kejawen nyuguh Sesaji dijelaskan tuntas tas tas, sampai dijelaskan tentang Arab tidak ada kembang hingga budaya nyuguh tidak dikenal di Arab, Jadi Budaya Nyuguh Orang Jawa patut dilestarikan karena Negara kita Subur Makmur Kembang Tumbuh, Padi, Kayu ditancep ya tumbuh contoh Telo Kaspe yang banyak ditanam daerah pegunungan Klotok Kediri yang kering. Demikian Sangat Memuaskan para pendengar/penanya yang terdiri Guru, Dosen, S2, Pensiunan/Aktip Militer, Kiyai, Sesepuh Kejawen Bahkan Pelajar SMP,SMA, Mahasiswa/wi, dll. Tanggal 27 Maret 2003 Suasana Alun-Alun Doho Kota Kediri Jawa Timur Semarak, banyak masyarakat berjualan, Alunan Gamelan Gending Jawa Menyelimuti Kota Kediri bekas Kerajaan Besar Masa Lalu, Orang terbetot jiwanya seolah-olah hidup di Zaman Kerajaan masa lalu, Penduduk gembira telah Kedatangan Keturunan Sri Wilatikta Brahmaraja V lebih dikenal Eyang Suryo Raja Abiseka Majapahit dengan Gelar Sri Wilatikta Brahmaraja XI. Tamu dari Bali Raja Bali Mula Dewa Agung Putranata, Gusti Kadek Sutowo GM Hotel Paradiso / Penerima Ekonomi Award 2002, Jero Gede Subawa Camat Kuta Yang kena Bom Bali, Mangku dll. Pagi diadakan Ruwatan masal : Orang berduyun-duyun ikut Ruwatan diantaranya Utusan Walikota yang masih pakaian dinas KORPRI, Para Pendaptar Ruwatan sudah mendaptar jauh hari berpakaian serba putih,yang mendadak pakaian bebas, Bali pakaian adat Bali, Jawa Pakaian adat Jawa, R. Soewito Pemilik Hotel Bismo juga ikut Ruwatan. Air Suci juga dikelilingkan Kota Kediri dipercik kan membersihkan Kota [Habis Ruwatan Pesik Mania Kediri Juara Sepak Bola Nasional] Ruwatan berlangsung hingga malam hari bahkan Dalang berganti 3X. Gusti Kadek Sutowo mendapat Cindramata Keris Nagaraja Yang diserahakan Walikota Kediri, Jero Gede Subawa Dapat Cindramata Gada yang diserahkan DANDIM Kediri, Dewa Putranata Mendapat Cindramata Keris Naga Pengantin diserahkan KAPOLRESTA Kediri, Demikian dihormatinya Tamu dari Bali ini karena sejak Jaman Majapahit hingga kini dan Kapanpun tetap melestarikan Adat Para Leluhur yang juga dulu dilaksanakan di Kediri, dimana akhirnya Budaya ini tidak dilaksanakan lagi setelah Pemerintahan Islam Demak menguasai Kadiri, karena adat Majapapahit bertentangan dengan adat arab, ini bisa dibaca dalam kitab “Kalam wadi” terbitan Tan Koen Swie bahkan Masyarakat dan Pemerintah Kediri sudah mengesahkan sebagai “SEJARAH KADIRI” ini Hak Masyarakat dan Pemerintah Kediri, karena buku ini ilmiah masih bisa dilacak kebenarannya, Desa nya masih ada, Patung Totokkerot/Durga yang tangannya di “KEPRUK” Sunan Bonang masih ada Lengan kanannya Patah,belakangan dipugar Perbakala diangkat dan diberi Pondasi Tinggi hingga Masyarakat bisa melihat Kasunyatan Para Sunan yang menghancurkan Patung Leluhur Kadiri yang menurut adat Arab Musrik/Berhala/Tohut. Inilah acara Ruwatan Pertamakalinya Kota KADIRI, bahkan desa-desa di Kediri sebelum acara ini Para Sesepuh/pinisepuh Desa sudah mengadaka Bersih/Ruwat Deso jadi Karena tiap desa sudah bersih Giliran Hang Bhatoro Agung Sri Wilatikta Brahmaraja XI Raja Abiseka Majapahit di Daulat Meruwat Kota Bekas Kerajaan Kadiri yang kebetulan Leluhur Beliau Raja Terakhir Kadiri. Suatu Kejadian aneh dan Tanpa sengaja acara ini terlaksana dengan Sponsor : Harian MEMO [Jawa Pos], Pabrik Rokok Kretek,Toko-Toko Jalan Doho dll, Pengusaha Kerabat Tan Koen Swi, Radio Sri Aji Wijaya FM 94,2 Kediri, Pengusaha Tulung Agung, Pura Majapahit Jenggolo, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu , ini membuktikan bahwa Masyarakat Kediri masih mencintai Budaya nya Yang Adiluhung. Sebenarnya acara Ruwatan Kota Kadiri ini diadakan setelah Puri/Puro/Griyo Hyang Bhatoro Agung Trowulan dilarang Kegitan, tapi hal ini masih belum diketahui masyarakat Kediri, untuk menghindari kemarahan pendukung Hyang Suryo di Kediri, jadi atas Kehendak Leluhur lah Acara ini bisa berlangsung, justru ada pengunjung dari Mojokerto hadir Oleh Hyang Bhatoro di suruh diam jangan ribut soal penutupan. Para Kyai Trowulan yang sempat menutup mendengar ini banyak yang berkilah dan membela Hyang Suryo dan menyebutkan Dalang-Dalang Penutupan. Karena sudah berlangsung sukses patutlah Sejarah ini dibuka untuk umum sebagai Berita Kasunyatan Kebesaran Narendra Utama Majapahit yang selalu berjuang melestarikan Budayanya sendiri, Setelah Ditutup Hyang Bhatoro gerak menghidupkan Budaya Ruwat/Bersih Deso di wilayah Kediri hingga terwujut Ruwatan Kota Kediri, disamping sering ke Bali, Akhirnya Rombongan Bali meneruskan Budaya Pemersatu Bangsa di Bali dengan Pameran Pusaka Majapahit, setelah menyaksikan Betapa Ramahnya Masyarakat Kadiri Leluhur Orang Bali yang tetap Melestarikan Adat nya biarpun dikepung adat Arab, Mereka toh Orang Jawa yang tidak lepas dari Jawanya. Dengan Melihat dengan Mata Kepala Sendiri Putranata meneruskan acara “Budaya Pemersatu Bangsa” di Bali yang juga mendapat perhatian Besar Masyarakat Bali yang masih melestarikan Adat Leluhur “Odalan, Caru Bali Mula, Ngenteg Linggih dll” Akhirnya Kakak Kandung nya Guru/Tapak’an Wijaya yang diramal Guru Sakti bahwa usia 30 tahun akan Bertemu Dewi “Tangan Seribu” itu yang harus di Sung Sung, dan benar akhirnya bertemu Sri Wilatikta Brahmaraja XI yang membawa Pratima Dewi Tangan Seibu yang mana telah diundang upacara ‘Madewa Sraya” dan tiap Odalan pun selalu di Undan itu Pratima Dewi Tangan Seibu yang sekarang melinggih di Pura Ibu Majapahit Jimbaran Bali. Dtambahkan Buku Pura Tuluk Biyu menyebutkan “Sira Mpu Galuh Saking Wit Majapahit ini Membuktikan Bali Mula pun Majapahit. [Ditulis Team Furum Studi Majapahit, Para Saksi yang ikut Upacara] Tambahan Bukti Ilmiah: Hyang Bhatoro Agung Suryo Wilatiokto Kepalanya Pas Ketika Memakai Mahkota Majapahit yang dibawa Team Pelestari Budaya Majapahit Dunia, dimana Sudah dicoba Berbagai Tokoh Dunia /dalam negri bisa Kebesaran / kekecilan.[ sudah diberitakan Media berulang-ulang] dan banyak lagi contoh perjuangan Beliau Melestarikan Adat Leluhurnya sampai ditutup rumahnya oleh Segelintir ahli budaya Arab yang takut kembalinya Budaya Majapahit yang sudah diberantas 500 tahun yang lalu, biarpun Serbuan, Intimidasi, bahkan Bom tidak menyurutkan kiprah Hyang Bhatara tetap eksis membela Leluhurnya agar bisa tetap Odalan, Caru dll tetap berjalan. Dan Sukusesnya Acara Odalan / Srada yang memang tertulis dalam kitab Negarakertagama, Tan Koen Swie yang didapatkan Mangku Nokoprawira diawal 2009 membuktikan Bahwa Semua perjuangan itu membuat Senang Arwah Sri Rajapatni di Alam Budaloka sehingga melindungi Narendra Utama selama Bulan dan Surya Bersinar [Kepercayaan Sendiri yang sudah dibuktikan dan diakui Dunia, selain Orang Jawa yang fanatik Arab 1000 tahun yang lalu inipun hanya segelintir Orang yang kebetulan didukung Pejabat Jawa Pro Arab, mereka sudah tewas oleh ulahnya sendiri dicabut nyawanya oleh Dah Hyang Tanah Airnya yang dibencinya]*** Acara ini Di Shoting VCD, Bahkan Foto ini bisa ditanyakan Radio Budaya Sri Aji Wijaya FM Kediri, tentunya Dokumen masih ada di Juru Shoting. Juga Foto Walikota Kediri Bapak. Maschut Motong Tumpeng Ruwatan disaksikan Brahmaraja XI dipajang di Resepsion Hotel BISMO Kediri dimana tiap tamu hotel bisa melihat, juga masyarakat Kediri tahu semua tentang Berita Mahkota Majapahit Liberty malah Orng Kediri yang pertama melihat Liberty yang memasang Foto Brahmaraja yang tak asing bagi Warga Kediri, lansung Pura Ibu Majapahit Jimbaran Banjir Telepon karena Liberty belum nyampai Bali, Kediri sudah membacanya. Sampai=Sampai Ketika Ada Oprasi Kendaraan Bermotor di Jalan Raya Kertosono ketika Brahmaraja Berhenti Sang Polisi memberi hormat, dan mengakui Mengawal KAPOLRESTA Kediri menghadiri Ruwatan, Mobil Brahmaraja dipersilahkan melanjutkan perjalanan dan minta maap atas Gangguan tadi yang mengganggu perjalanan.******

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: