MAJAPAHIT PUNGKASAN DALEM KADIRI / KAHURIPAN

Prabu Sri Aji Wijaya Mondar mondir sambil kedua tangannya kebelakang tubuhnya seperti orang terborgol, Para Pejabat Pura Daha terdiam sambil bersimpuh tidak ada yang berani buka suara, Keheningan akhirnya dibuka oleh Arya Paguh ” Sang Prabu Junjungan Kawula Daha, Jenggala dan Kadiri, Janganlah hanya berdiam diri, cepat ambil keputusan” mendengar ini bagai tersadar dari mimpi Prabu Wijaya tersentak dan kembali duduk di Dampar Kencana. Semua yang hadir termasuk Para Utusan Mancanegara agak kendor dan mengambil nafas agak panjang setelah mengalami keregangan. Mpu Galuh yang baru beberapa hari di Kadiri menyela: ” Pura Wilatikta sudah  hancur dijarah ruwah pasukan Demak, Kasogatan Megaluh pun luluh lantak, Sri Baginda Wilatikta juga tidak diketahui keberadaannya, harap Sang Prabu cepat Mengambil alih tampuk Pimpinan Pura Wilatikta agar tidak fakum, Lebih-lebih disini banyak utusan Manca, yang tentunya Mendukung Sang Prabu”‘, Arya Paguh yang sepuh kembali menimpali: ” Benar, ini untuk menjaga kewibawaan Wilatikta dimata Jagatraya, jadi jangan sampai Jagat menganggap Wilatikta tidak ada”.Sang Prabu Sri Aji Wijaya Kusuma menjawab:” Ya, benar Paman, Situasi memang tak menentu, semua Pedagang manca sudah sebulan tidak bisa ke Ujung Galuh karena situasi di Wilatikta masih diblokir Tentara Rosul, Kalau begitu siapkan semua Perahu, kita bantu Pasukan  sisa Bhayangkara Wilatikta, Siapkan Pasukan Surawana, Kita buka blokir di Megaluh”. Kita tinggalkan dulu Kerajaan Daha, kita menuju  Kerajaan Wilatikta Trowulan, Suasana masih mencekam, disana sini mayat masih banyak ditemukan, bangunan Pura yang termegah di Dunia itu seakan Kerajaan Hantu, Barang-barang berharga termasuk Pintu-Pintu Keraton sudah dicopot semua dan diangkut beratus-ratus cikar. Yang tidak sampai Demak sampai sekarang Dikeramatkan Penduduk contoh ada Pintu berukir dikeramatkan didaerah Tuban yang ceritanya dibawa Pasukan Demak dari Majapahit. Keraton Adipati Terung masih dipenuhi Pasukan Rosul, tapi sebagian sudah pulang ke Demak dengan jarahannya. Untuk sementara Pimpinan di Trowulan dipegang Nyo Lai Hwa yang masih saudara ipar Babah Jimbun/Patah  yang mengangkat dirinya Sultan Abdulhamit Khak Panatagama dengan didukung Para Wali Allah. Ketika itu suasana di Terung masih mabuk Kemenangan, suara Zikir berkumandang tiap hari. Kita tinggalkan dulu Trowulan, Puluhan Perahu Perang berkepala Bhatara Kala dengan Pasukan Kadiri sudah tiba di Bandar Kesamben-Betro, ternyata Pasukan Rosul Jubah Putih sudah tidak ada, Masayarakat justru pada menyambut Pasukan Kadiri, yang sembunyi pada keluar semua, mereka bersatu-padu dengan Pasukan Daha, Jenggala, Kadiri, dan Manca diam-diam bergerak mengepung Keraton Terung yang masih dimabuk Kemenangan. Singkat cerita akhirnya terjadi Peperangan Pasukan Kadiri dibantu Penduduk yang tidak berpakaian Prajurit, Nyo Lai Hwa terbunuh, Pura Terung dihancurkan Rata dengan tanah, tidak ada sisanya karena dianggap berhianat kepada Wilatikta  [Sekarang Terung masih ada dan di Sebut Pecah Tondo, Bapaknya Mbah Prayogining Jagat Asli Orang Terung]. Tujuan Kadiri hanyalah membuka Blokir agar Perahu para Pedagang Cina dan Portugis bisa lewat, selanjutnya Pasukan Kadiri pulang dan Pengaturan Wilayah diserahkan penduduk setempat, Penyerangan ini dirahasiakan hingga 25 tahun, [pembrontakan rak’yat] mungkin Putra Patah Raden Trenggono dapat bocoran dan menyerang Kadiri 40 tahun kemudian.  Saat itu Disebutlah Candra Sengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi 1400 Saka/1478 M. Setelah Trowulan dianggap kalah dan ganti Kasultanan Demak, Sri Aji Wijaya Kusuma diangkat oleh Rak’yat Majapahit Menjadi Raja Majapahit. Sri Aji Wijaya Kusuma pada 1447 mendapat Gelar Abiseka Sri Wilatikta Brahmaraja V sebagai Bhatara Kahuripan [Daha, Jenggala,Kadiri]  oleh Sri Rajapatni Bhatari Wilatikta V {Rani Suhita Ratu Majapahit V] menggantikan Ayahnya Sri Aji Pangkaja Cina / Sri Wilatikta Brahmaraja IV / Wisnuwardhana VII Bhatara Kahuripan, karena Ditarik ke Pura Wilatikta Pusat sebab Beliau Adalah Suami Sri Raja Patni Bhatari Wilatikta V [Ratu Majapahit V Dewi Suhita], Jadi Kahuripan diserahkan Sri Aji Wijaya Kusuma / Wisnuwardhana VIII [Raja Kadiri] dan di Abiseka sebagai Putra Mahkota Majapahit Sri Wilatikta Brahmaraja V oleh Ibunda Ratu Sri Raja Patni Bhatari Wilatikta V, direstui Ayahnya sendiri Sri Wilatikta Brahmaraja IV yang juga Suami Sri Raja Patni Bhatari Wilatikta V. Jadi tidak salah Setelah Pura Wilatikta Pusat Trowulan Jatuh, Beliau diangkat menjadi Raja Majapahit di akui Dunia saat itu Karena memang Putra Mahkota Raja Majapahit Pusat Trowulan Ratu Suhita dan suminya Sri Aji Pangkaja Cina [ maap sebesar besarnya pada Leluhur menyebut nama sebelum Beliau jadi Raja] yang punya anak Sri Aji Wijaya Kusuma. China itu Ribuan tahun bisa mencatat sejarahnya, ini kan baru 500 tahun hanya 4 generasi jadi mudah dilacak, Repotnya kena Penghancuran Islam, kitab, Candi Leluhur dll dimusnah kan, Lebih menyedihkan Rumah Nabi Muhamad di Arab juga dihancurkan di Bolduser di jadikan Mal dan Teriakan Para Arkeolog Dunia untuk. jangan dirusak karena Warisan Sejarah Dunia Islam dianggap Suara TAHI, apalagi Sejarah Majapahit, Jadi islam tidak mencatat bahkan tidak Memuja Leluhur, Lha Orang Cina dari ribuan tahun muja Pek Kong [ Empek Engkong ] / Leluhur, jadi Kalau Muja Leluhur lalu buat Candi tidak tahu nanti siapa yang dilinggihkan dianggap orang Gila, contoh Itu Candi Puri Gading Peresmiannya tingkat Dunia banyak Keluarga dari Cina pakai Selempang Tulisan Cina ikut meresmikan, ini kan Kenyataan, Sri Adji Pangkadja Tjina Turunan IV Brahmaradja / Hyang Wisesa / Djayasabha / Bhatara Indra yang Istrinya Li Yu Lan / Dara Jingga / Indreswari / Ratu Mas Magelung Yang masih berdiri tegak di Pura Besakih Bali, ini dibuat untuk Raja Bali Arya Kenceng agar kalau Odalan tidak perlu pulang ke Trowulan., Trowulan waktu itu masih bebas Odalan, setelah di pegang Pemerintahan Islam Candi dihancurkan, yang bukan Islam dikejar-kejar sampai Lari ke Tengger, Bromo dan Bali, 1965 juga penumpasan Orang yang tidak ke Masjit di cap Komunis tidak bertuhan. Pura Leluhur Majapahit 2001 pun diserbu, di Bom dan ditutup MUSPIKA R.I. ini apa Dongeng? Pada 2003 500 tahun setelah keruntuhan Majapahit Kadiri dpenuhi Sepanduk “Selamat Datang Hyang Bhatoro Agung Suryo Wilatikto [Sri Wilatikta Brahmaraja XI] untuk Meruwat Kota Kadiri. Meruwat/Membersihkan biar Suci bekas Kerajaan Majapahit Terakhir. Jadi terulang kembali Peristiwa 500 tahun yang lalu, tapi hanya simbolik saja, tapi segi Niskala sangatlah berarti, simbul Kasunyatan biarpun dinggap mengembalikan Kemusrikan, tapi ini sangat penting untuk simbul Kebudayaan dan Bukti masih adanya Majapahit masa kini yang bukan Dongeng 1001 Malam nya Abunawas si Penipu. [Bagdad tempat tukang Dongeng Abunawas sekarang Hancur akibat perang] ,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: