MAKNA DI BALIK KITAB BHAGAWAD GITA TERBESAR

Pukul 16.00 Wita (bagian Denpasar selatan) tanggal 21 Oktober 2009 bertepatan dengan Pujawali Bathara Wisnu manifestasi Prabu Airlangga Kawitan Jawa-Bali yang akan Odalan tanggal 02 November 2009;
Jalan Raya by pass Nusa 2 tidak begitu ramai pada siang menjelang sore hari itu, panaspun tidak seberapa menyengat kulit, Kami meluncur ke Nusa Dua di musium Pasifika yang tengah memamerkan Buku Kitab Bhagawad Gita terbesar di Dunia. Musium ini sebenarnya tidaklah sulit dicari, setelah tanya sana-sini kami dipersilahkan oleh satuan petugas keamanan untuk masuk. Kami sebenarnya mengantar tamu paling VVIP  dengan santai dan rilex yakni Abhiseka Raja Majapahit ke-9 Hyang Bathara Sri Wilatikta Brahmaraja XI untuk memberikan “TAKSU”.

Setelah beberapa langkah berjalan memasuki Pintu masuk, kami di Sambut Presiden World Hindu Youth Organisation (WHYO) sekaligus Dokter dan Rektor termuda  serta terpandai versi Muri sekaligus Dunia yakni DR. I Gusti Ngurah Arya Vedakarna MWS III  juga sudah diangkat sebagai Raja Bali (meneruskan sejarah yang tertunda dan diobok-obok oleh dajjal yang memfitah) yang pada hari ini telah menciptakan MURI untuk yang kesekian kalinya. Satu kebanggaan di Bumi Nusantara khususnya Bumi Majapahit Bali untuk mengimbangi berita-berita yang memalukan disiarkan media elektronik maupun cetak yakni Indonesia sarang teroris, yang dilakukan oleh para Dajjal juga krisis multidimensi lainnya. Setelah Sang rektor Muda bersalaman menjabat tangan Raja Majapahit. Akhirnya mengajak untuk melihat-lihat Buku Kitab seberat kurang lebih satu tons dengan panjang 1,5 meter dam lebar 1,25 meter ditaruh disebuah kerangka besi berhias altar didepannya yang berisi banten, serta tirta suci. Sang Raja dimohon untuk memberikan restu dan menaksu supaya mendapatkan anugerah dari Para leluhur dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Dengan di tepok-tepok dirasa cukup sebagai pemberian “restu” disaksikan para undangan yang hadir tak terhitung jumlahnya.
Para Undangan ini sudah hadir sebelumnya hingga kami dipersilahkan duduk ditempat yang telah disediakan, di sini disambut oleh Direktur Utama PT Bali Tourism Development Corporation (BTDC) yang memprakarsai Nusa Dua Fiesta (NDF) ke-13 yaitu Bapak Ir.I Made Mandra dari Ubud Gianyar trah kawitan pretisentana Bendesa Manik Mas di Taman Pule yang mana Para leluhurnya adalah Sapta panak Rsi dari Majapahit  Jawa (Nama-nama ini sesuai pada masa Majapahit Bali sebelum generasi sekarang yang minter-minteri). Akhirnya juga berbincang santai dengan Bendesa pekraman Nusa Dua dan lainnya sampai acara dimulai. Sambutan demi sambutan di sampaikan oleh para sesepuh dan tokoh yang intinya mengatakan semua adat dan budaya di Bali dilestarikan oleh para leluhur sejak jaman Majapahit dahulu hingga sekarang, hingga bisa membikin kesejahteraan Masyarakat Bali pada umumnya, “Sang Raja manggut-mangut  pelan mendengarkan uraian pidato singkat dari panitia sekaligus pengagas acara ini”. Acara di tutup dengan do`a oleh Pemangku hindu dan pendeta Majapahit untuk memohonkan ma`af bila terjadi kekurang-sempurnaan dalam ber-Yadnya dan berkarya di Dunia.
Acara dilanjutkan menuju tempat NDF di pinggir pantai yang indah dikelilingi hotel berbintang. Para Undangan, masyarakat, para Touris domestik maupun manca negara berbaur menjadi satu tanpa batas untuk bersama-sama menyaksikan penghargaan MURI yang kesempatan itu di wakili oleh Senior Manajernya bernama Paulus Pangka kepada Presiden WHYO DR. Wedakarna dengan Ir Made Mandra dengan nomor sertifikat unik yakni 3939. Selanjutnya isi dari kitab Bhagawad Gita di terjemahkan dalam sendra tari yang pada malam hari itu memukau seluruh penonton. Sejarah itu terulang  kembali, Kisah  Maha Bharata Kesatriya Arjuna juga terulang di abad-21;
Di kisahkan di negara Amarta, bala korawa (Dajjal) telah mengambil alih dengan memaksa, menjajah dan menginjak harkat dan martabat Para Pandawa yang masih bersaudara. Tanah air Para Pandawa yang dulu damai, hijau, gemah ripah loh jinawi menjadi porak poranda dengan ulah si korawa ini, hukum keadilan dan kemanusiaan dimusnakan, Tri Hita Karana ditinggalkan hingga rusaklah bumi Tanah Air Amerta ini. Para Pandawa sudah banyak melakukan negoisasi, berunding untuk bala korawa supaya tidak serakah dan berbuat kehancuran di Bumi Amerta serta meminta Haknya kembali, karena memang Para Pandawa yang berhak berdiam di Tanah Airnya sendiri (Para Korawa ini bernafsu ingin menguasai Amerta dengan taktik apapun).

Perundingan-perundingan ini terus mengalami jalan buntu hingga akhirnya diputuskanlah untuk merebut Tanah Air yang di kuasai oleh Korawa. Pada kisah itu disebutkan Sri Kresna datang dengan tiba-tiba ingin menyampaikan lagi negoisasi pada Duryudana sebagai pimpinan Korawa. Bukan sambutan baik yang didapat malah cacian dan ingin perang tanding, sebagai masih satu saudara Sang Kresna titisan Dewa Wisnu dengan sabar tetap menjelaskan pentingnya persaudaraan. Tapi memang Duryudana sangat angkuh dan sombong serta ingin maunya sendiri mencaplok, serta memaksakan kehendak dan supaya keyakinannya diikuti menolak sikap baik para Pandawa. Hingga dikerahkankanlah para raksasa (Dajjal, Teroris bomber untuk membikin kekacauan). Para Pandawa berunding untuk perang secara Ksatrya, tapi nampaknya Arjuna Ragu dan bimbang karena yang dihadapi adalah kakek gurunya, Sri Kresna akhirnya memberikan petunjuk dan siap sabagai saisnya (menyopiri Arjuna). Sri Kresna ini memberikan bukti bahwa apa yang akan dilakukan oleh Arjuna adalah untuk kebenaran membela Tanah Airnya dan harkat serta martabat bangsa. Keragu-raguan Arjuna sangat beralasan karena musuhnya adalah saudara sendiri, tapi setelah melihat dan merasakan penindasan Korawa tergerak hatinya untuk menghentikan keserakahan dimuka bumi setelah Sri Kresna menjadi Durga bertangan seribu hingga membuat kocar-kacir para raksasa (Dajjal ini). Takdir mengatakan kebenaran tetap kebenaran tapi bukan ingin yang paling benar. Setelah sampai di Padang Kuru Setra terjadilah perang secara Ksatriya Pandawa di wakili oleh Arjuna sais oleh Kresna sendiri (Visnu) dan Bala Korawa. Tanpa keragu-raguan sama sekali Arjuna perang dengan Korawa dan dimenangkan Pandawa hingga membuat Dunia kembali aman” (lebih detail silahkan baca Bhagawad Gita mudah-mudahan anda mendapat pencerahan)

 Acara malam itu tambah meriah, hiburan rakyat disaksikan berbagai lapisan masyarakat Dunia karena Bali memang sangat menghargai budaya leluhur tidak seperti di luar Bali ( mungkin tidak semaunya) Yang berbau budaya di tentang oleh tokoh atau pemuka Islam yang punya pemikiran seakan-akan mereka hidup bukan Di Indonesia. Budaya-budaya Nusantara bisa dipastikan tidak sesuai dengan Qur`an dan hadist seperti Odalan, mecaru ruwat desa dan lain-lainnya. (Aneh dan Ironis). Adapun yang tetap melaksanakan akan di Cap PKI padahal partai pertama yang berani sebutkan Indonesia (1924) dan PNI (1925) contoh Ki Hajar Dewantara   menyebutnya saja dengan INDONESISCHE PERS..Entah PKI atau komunis yang akal-akalannya para dajjal ini di Era ORBA semua itu terjawab di era Reformasi yang masih jauh dari Reformasi hanya rekayasa untuk memusnahkan orang yang tidak sepaham, tidak ke masjid dan memusnahkan Suku tertentu Ras tertentu, makanya semua mengatakan jangan bicara SARA.

Di masa sekarang, kami juga memaknai Sri Kresna adalah Sri Wilatikta Brahmaraja XI yang sebagai sais untuk Arjuna yakni Dr Wedakarna yang sempat mengalami kritikan dan halangan untuk berjuang demi Tanah Air adat, sejarah dan budaya. Dan berjuang itu memang harus ada yang mengkritik, biar tidak tulah inilah penjelasannya. Dengan mengiring Ibu Durga Mahendradatta Ibunda dari KAWITAN Jawa-Bali Prabu Airlangga (Wisnu) dan mengupacarai (Odalan) maka sahlah cerita MAHA BHARATA di abad-21. Anda tunggu gebrakan dari sang Arjuna yang tampan ini untuk Nusantara ….

One Response to MAKNA DI BALIK KITAB BHAGAWAD GITA TERBESAR

  1. Rakeyan Dharma mengatakan:

    selama manusia masih ada di muka bumi ini Bhagawadgita ( nyanyian dewata ) tidak pernah lapuk oleh zaman. Beruntunglah kita dilahirkan dalam tradisi Sanatana Dharma ( Hindu ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: