MAJAPAHIT NUSANTARA MASA KINI

Nuswantara atau Nusantara yang sedang berkembang sekarang ini sudah diprediksi limaratus tahun yang lalu oleh para leluhur negeri ini yakni sejak Majapahit disirnakan sejarahnya hingga menjadi “Sirna ilang kertaning Bumi”. Padahal Majapahit itu masih ada.
Pada masanya Nusantara Majapahit dikenal dengan Gemah Ripah loh Jinawi hingga sebagian generasi rakyat Indonesia melupakannya, kalau memang semua sejarah itu tidak ada, berarti tidak ada sejarah menyatukan Nusantara hingga membuat makmur Rakyatnya yang sama-sama berotonom baik khusus maupun otonom lainnya.

Sejarah ini berawal dari penyerangan Demak entah itu bukti atau tidak, Majapahit runtuh diawali dari R.Patah menyerang Majapahit Trowulan hanya diawali dari Trowulan dibantu oleh para wali atau sunan ini tertuang di Babad Kadiri ditulis oleh Mpu Tan Khoen Swie dan diakui sebagai sejarahnya kota Kediri. Didalam babad ditulis bagaimana Majapahit Trowulan diserang oleh Demak dan bagaimana Sunan Bonang dan lainnya memaksakan kehendaknya di bumi Majapahit Trowulan.
Setelah itu Nusantara mengalami perubahan masa dalam penjajahan oleh bangsa Eropa yang awalnya sama dengan Pedagang dari Arab dan Gujarat India.
Pedagang Arab awalnya berdagang tetapi lambat laun karena melihat rakyat Majapahit Nusantara sangat lugu, polos dan jujur akhirnya mereka ingin mengibuli. ingin memonopoli dan ingin menjajah dalam segala hal termasuk adat dan budaya Nusantara menjadi adat dan budaya Arab.
Hingga menyingkirkan juga pedagang Gujarat India (aliran sekarang yang dianut sebagian rakyat ini yakni aliran Ahmadiyah mengikuti Gurlam Singh sebagai nabinya atau yang mengenalkannya). Kenapa mereka disebut pedagang disini, karena memang awalnya Orang Arab itu memang berdagang dan masuk Nusantara tahun hanya untuk berdagang tetapi setelah Abad ke-15 menancapkan ajaran dari Arab hingga menjajah dan membuat kawula di Nusantara menjadi perang saudara karena berbeda akidah atau keyakinan hingga Nusantara Majapahit terpecah-pecah.
Melihat Nusantara Majapahit terpecah-pecah dan suplai rempah yang diekspor ke Eropa dan lainnya terganggu, membuat bangsa Eropa ingin mencari Negara pemasok rempah-rempah mencari Negara Kerajaan Nasional Majapahit (hanya inilah kebanggaan untuk Nusantara sekarang).
Bangsa Eropa juga demikian, masuk di Nusantara juga sesuai dengan Ramalan leluhur, setelah rakyat berbeda pandangan dalam keyakinan  hingga membuat perang saudara di mana-mana, membuat bangsa Eropa juga ingin menjajah sekaligus menyelamatkan cagar budaya dari rakyat yang sudah teracuni pandangan adat dari Arab. Ini dibuktikan hukum-hukum penyelamatan Cagar budaya berasal dari keprihatinan bangsa Belanda dan menyelamatkan sebagian besar peninggalan Majapahit ke Negaranya (tersimpan di musium leiden) dan bercokol sangat lama hingga empat generasi. Jadi Islam Demak mewakili sejarah yang meruntuhkan Majapahit dengan menyerang Trowulan jadi hanya Trowulan (Kerajaan Arab di Nusantara hanya bercokol 73 tahun). Sempat juga pedagang India (Aliran sungai Sindu yang sekarang pemerintah mengasih label Hindu di Indonesia 1961) bercokol selama tiga tahun . Kerajaan Belanda (Keristen sekitar 350 tahun). Semua itu menutupi sejarah Siwa Buda Majapahit yang bisa menyatukan Nusantara dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika-nya.

INI FAKTA YANG TERUNGKAP
Masyarakat sekarang cenderung anarkis, kemiskinan meraja-lela hingga hukum ditegakkan hanya untuk rakyat kecil dan miskin serta buta hukum. Padahal dahulu bangsa ini terkenal dengan Gemah Ripah Loh Jinawi Tentrem Kerta Raharja serta Nusantara menjadi mercusuar Dunia. Bercermin dari Bali yang melestarikan adat dan budaya leluhurnya yang nota bene dari masa Majapahit ini terbukti apa yang dilakukan masyarakat di Bali prakteknya adalah Siwa Budha Majapahit biarpun diberi titel Hindu 1961 oleh pemerintah dalam tanda kutip Menteri Agama yang mewakili Arab. Masyarakat Bali tetap berkeyakian ke Leluhur dulu dengan mempersembahkan dan melestarikannya seperti Odalan, ngenteg linggih,mecaru dan lain sebagainya hingga dunia mengaguminya sebagai Majapahit kecil tapi besar. Mengapa ?.
Karena semua Pura-pura atau dalam hukum Belanda diakui sebagai keraton-keraton dari Anglurah pejabat setingkat Gubernur dalam pemerintahan Majapahit, atau kawitan Majapahit yang lari ke Bali dengan selamat sedangkan yang tertinggal di Jawa dibantai dan dicap kafir, sesat, komunis (1965) dan lain sebagainya supaya mudah untuk di bantainya (kutipan buku Tan Khoen Swie). Dan ini masih berlangsung hingga sekarang.
Masyarakat sekarang sangat memuja barang-barang import seperti baju bekas atau baju eks import (Baldress) juga keyakinan, adat serta budaya yang berbau import masyarakat sekarang sangat memujanya.

Budaya senang konflik, budaya kekerasan serta tawuran juga mudah di import oleh kebanyakan masyarakat sekarang termasuk budaya ingin maunya sendiri dengan menutup dan menyegel PURO MOJOPAHIT TROWULAN dengan alasan yang tidak jelas hanya menghimbau melarang berkegiatan dan ritual dalam bentuk apapun. didukung oleh pemerintahan Indonesia oleh lembaganya untuk menyenangkan Arab. Padahal PURA MAJAPAHIT melestarikan budaya dan sangat menerapkan Pancasila dan ke Bhinnekaan ini terbukti dan terlihat dari dokumen yang sudah ada (dokumentasi).
Orang kebanyakan sekarang itu senang berbicara tanpa melihat kenyataannya. Untuk itu dihimbau lihatlah kenyataannya dulu. Sebutan Tuhan Allohu Akbar…Allohu Akbar yang suci sekarang hanya dipakai untuk menggertak atau menakuti serta bersumpah supaya yang lainnya percaya dan menganggap orang beragama import. Unjuk rasa dan demo bukan lagi mencerminkan kepentingan Indonesia tetapi sudah seperti kepentingan Arab. Bangsa ini sudah menjadi bangsa Arab mundur 1000 tahun yang lalu yang lalu terkenal dengan jaman jahilliyah atau jaman kebodohan. Justru yang lebih bodoh dari orang Arabnya sendiri hingga siap mati demi adat dan budaya serta sareat Arab. Lihatlah simbol-simbol atau bendera yang dipakai mencerminkan simbol Arab, termasuk kata-kata yang dilontarkan dalam unjuk rasa untuk menggertak lainnya berpedoman semua menjadi Arab seperti gambar diatas. Silahkan direnungi sendiri bagi yang ingin merenunginya, semua sudah berbau Arab.
Lha Indonesianya mana ? Semoga masih ada !.
Semoga ini sebagai gambaran kembalinya Masyarakat Nusantara menjadi berbudi luhur serta penuh kedamaian. Ajaran Siwa Buda menerapkan berbudi luhur yang tinggi, menghargai nasehat leluhurnya mewakili orang tua hingga semua bisa mengenal Tuhan. Bahasa mudahnya (leluhur Purusa) Siwanya berkata ayo kerja…ayo berkarya…ayo lestarikan adat dan budayanya…ayo odalan…ayo mecaru. Budhanya (leluhur Predana) berkata “Amitabha” semua mahkluk berbahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: